Cuaca Ekstrem dan Padatnya Armuzna, Jamaah Diminta Tetap Kompak

AKM • Monday, 25 May 2026 - 13:45 WIB
Ketua Komnas Haji, Dr. H. Mustolih Siradj SHI., MH.,

Makkah  -Tahapan puncak ibadah haji 1447 Hijriah mulai berlangsung pada Senin (25/5), ditandai dengan pergerakan jamaah menuju Armuzna, yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ribuan jamaah haji Indonesia mulai dimobilisasi secara bertahap dari hotel-hotel di Mekkah menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf pada 9 Dzulhijjah atau Selasa (26/5).

Ketua Komnas Haji, Dr. H. Mustolih Siradj SHI., MH., mengatakan fase Armuzna menjadi rangkaian ibadah yang paling padat sekaligus menguras energi jamaah karena melibatkan mobilitas tinggi di tengah jutaan umat Muslim dari berbagai negara.

“Jamaah akan bergabung dengan sekitar 1,6 juta jamaah dari seluruh dunia dalam pelaksanaan wukuf di Arafah,” ujar Mustolih Siradj dalam keterangannya di Mekkah, Senin (25/5).

Setelah menjalani wukuf, jamaah dijadwalkan bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina guna melaksanakan lontar jumrah Aqabah, Ula, dan Wustha pada 10 hingga 12 Dzulhijjah.

Di sela rangkaian tersebut, jamaah juga harus kembali ke Mekkah untuk melaksanakan tawaf ifadah, sai, dan tahallul sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah haji.

Menurut Mustolih, padatnya agenda ibadah, jauhnya jarak tempuh, serta pergerakan jamaah yang berlangsung secara bersamaan berpotensi memicu kelelahan fisik maupun menurunnya konsentrasi jamaah, khususnya bagi kelompok lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Ia menilai kondisi tersebut dapat menyebabkan jamaah terpisah dari rombongan, tertinggal, bahkan tersesat di tengah lautan manusia yang menggunakan pakaian ihram seragam berwarna putih.

“Situasi di Armuzna dengan jutaan jamaah dan tenda-tenda yang bentuknya seragam sering kali membuat jamaah kesulitan mengenali rombongan maupun lokasi tendanya,” katanya.

Selain kepadatan jamaah, suhu udara di Arab Saudi yang diperkirakan mendekati 50 derajat Celsius juga menjadi tantangan tersendiri selama puncak pelaksanaan ibadah haji tahun ini.

Karena itu, Komnas Haji mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan dan solidaritas antarjamaah melalui semangat ta’awun atau saling membantu.

Mustolih menekankan bahwa semangat “jamaah jaga jamaah” sangat diperlukan agar para jamaah tidak hanya bergantung kepada petugas haji dalam menghadapi situasi di lapangan.

Ia juga menilai peran ketua rombongan (karom) dan ketua regu (karu) menjadi sangat penting dalam memastikan seluruh anggota kelompok tetap bersama selama menjalani rangkaian ibadah Armuzna.

Meski menghadapi tantangan besar, Komnas Haji optimistis pelaksanaan puncak ibadah haji tahun ini dapat berjalan lancar dan sukses apabila seluruh pihak, termasuk jamaah, petugas, dan pendamping, dapat bekerja sama dengan baik.