Ketimpangan Akses, Teuku Feroz Dirikan Ekadanta demi Masa Depan Pendidikan Aceh

AKM • Monday, 25 May 2026 - 13:06 WIB
Teuku Feroz Taufan, putra asal Aceh sekaligus alumni Institut Teknologi Bandung (ITB)

Jakarta – Ketimpangan akses pendidikan tinggi antara daerah dan kota besar masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Kondisi inilah yang mendorong Teuku Feroz Taufan, putra asal Aceh sekaligus alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), membangun gerakan pendidikan untuk membantu siswa-siswa Aceh menembus perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik nasional.

Bagi sebagian pelajar di Pulau Jawa, nama kampus seperti Universitas Indonesia (UI), ITB, atau Universitas Gadjah Mada (UGM) mungkin sudah akrab sejak dini. Namun, bagi banyak siswa di Aceh, akses menuju kampus-kampus tersebut masih penuh keterbatasan.

Feroz mengaku menyaksikan langsung kondisi tersebut saat dirinya diterima di ITB pada 2015. Ketika itu, hanya 19 siswa dari seluruh Aceh yang lolos melalui jalur tes tulis ke ITB. Angka tersebut bahkan terus menurun hingga hanya tersisa empat orang pada saat dirinya lulus pada 2019.

“Aceh menjadi provinsi termiskin, dan nilai TKA di pertengahan tahun 2010-an termasuk yang terendah di Sumatra. Itu cukup memprihatinkan dan membuat saya berpikir bahwa ini yang harus dibantu lebih dulu,” ujar Feroz.

Menurutnya, banyak siswa di Aceh sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi kalah bersaing karena minimnya akses terhadap informasi, strategi belajar, dan pendampingan menghadapi seleksi masuk PTN.

Berangkat dari keresahan itu, Feroz bersama sejumlah alumni ITB asal Aceh mendirikan Ekadanta Learning Center pada akhir 2019. Lembaga tersebut dibangun sebagai wadah pendampingan bagi siswa SMA dan SMK di Aceh agar memiliki peluang lebih besar diterima di kampus unggulan nasional.

Pada tahap awal, program difokuskan di Banda Aceh karena kota tersebut menjadi tujuan banyak pelajar dari berbagai daerah di Aceh untuk melanjutkan pendidikan menengah.

Perjalanan membangun Ekadanta tidak berjalan mudah. Feroz dan rekan-rekannya harus menyusun konsep program, memetakan kebutuhan pendidikan, hingga menggalang dukungan dari para alumni Aceh di Jakarta untuk memperoleh pendanaan awal.

Angkatan pertama Ekadanta diikuti 40 siswa pilihan yang seluruhnya mendapatkan fasilitas belajar secara gratis. Seleksi dilakukan melalui tes ketat untuk menjaring siswa dengan potensi terbaik.

Hasilnya mulai terlihat dalam waktu singkat. Pada tahun pertama program berjalan, jumlah siswa asal Aceh yang diterima di ITB meningkat hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya.

Kini, memasuki tahun ketujuh, Ekadanta berkembang menjadi lembaga yang berjalan secara mandiri. Selain menerapkan sistem subsidi silang, Ekadanta juga memperluas dampak melalui pelatihan guru dan kerja sama dengan sekolah-sekolah.

Feroz menilai penguatan pendidikan tidak cukup hanya menyasar siswa, tetapi juga perlu memperbaiki kualitas tenaga pengajar dan lingkungan belajar secara menyeluruh.

Di tengah aktivitas sosialnya tersebut, Feroz tetap menjalani karier profesional sebagai konsultan manajemen dan transformasi bisnis. Setelah lulus dari Teknik Mesin ITB pada 2019, ia bergabung dengan perusahaan konsultan EQUITEK dan menangani berbagai proyek transformasi di sejumlah BUMN besar, seperti Pos Indonesia, Krakatau Steel, dan RSCM.

Pada 2023, ia melanjutkan karier di Altha Consulting dengan fokus pada strategi dan transformasi sektor logistik BUMN. Kariernya berkembang pesat hingga dipercaya menduduki posisi Senior Manager pada 2025.

Feroz mengatakan pengalaman menerima beasiswa dari Tanoto Foundation turut membentuk kemampuan kepemimpinan dan manajemen sosial yang ia gunakan dalam membangun Ekadanta.

Menurutnya, program pengembangan diri yang diberikan tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga membentuk kemampuan komunikasi, negosiasi, hingga kepemimpinan yang sangat berguna dalam dunia kerja maupun kegiatan sosial.

“Programnya bukan hanya soal bantuan pendidikan, tetapi juga membangun kemampuan interpersonal dan kepemimpinan secara sistematis,” kata dia.

Ke depan, Feroz berharap semakin banyak generasi muda Aceh yang memiliki keberanian untuk bermimpi besar dan percaya diri bersaing di tingkat nasional.

Ia juga berharap para lulusan perguruan tinggi nantinya dapat kembali ke daerah untuk membawa perubahan melalui ilmu, pengalaman, dan jejaring yang mereka miliki.

“Kalau semakin banyak anak Aceh yang bisa masuk kampus-kampus terbaik lalu kembali membangun daerahnya, dampaknya akan sangat besar untuk masa depan Aceh,” pungkasnya.