RS Premier Bintaro Edukasi Penanganan Obesitas Lewat Bedah Bariatrik–Metabolik

ANP • Friday, 22 May 2026 - 23:11 WIB

JAKARTA -  RS Premier Bintaro menggelar kegiatan Media Gathering bertajuk “Mengenal Bedah Bariatrik–Metabolik untuk Obesitas” di PUJA Bumi Kenduri The Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan medis secara serius dan berkelanjutan.

Acara menghadirkan narasumber Dr. dr. Errawan Wiradisuria, Sp.B, Subsp. BD(K), M.Kes, Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Konsultan, serta turut dihadiri CEO RS Premier Bintaro, dr. Relia Sari, MARS.
Dalam pemaparannya, dr. Errawan menegaskan bahwa obesitas saat ini tidak lagi dipandang sekadar persoalan gaya hidup, melainkan penyakit kronis yang dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga menurunkan kualitas hidup pasien.

“Berbagai organisasi kesehatan dunia seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah mengategorikan obesitas sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Namun di Indonesia, obesitas masih sering dianggap hanya sebagai masalah pola hidup,” ujarnya.

Menurut dr. Errawan, salah satu metode penanganan obesitas yang efektif adalah melalui bedah bariatrik–metabolik. Prosedur ini bertujuan membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes dan hipertensi.

Dibandingkan metode konservatif seperti diet, olahraga, maupun obat-obatan, tindakan bedah bariatrik dinilai memberikan hasil jangka panjang yang lebih efektif, khususnya pada kasus obesitas berat.

Beberapa manfaat utama dari prosedur bariatrik antara lain penurunan berat badan yang signifikan dan bertahan lama, perbaikan kualitas hidup pasien, menurunkan risiko penyakit penyerta (co-morbid), serta membantu mengontrol diabetes, hipertensi, dan kadar kolesterol tinggi.

Adapun pasien yang dapat menjadi kandidat operasi adalah individu dengan Body Mass Index (BMI) di atas 35, atau BMI di atas 30 yang disertai penyakit penyerta berisiko tinggi akibat obesitas. Selain itu, pasien juga harus memiliki komitmen menjalani perubahan pola hidup sehat dan kontrol kesehatan jangka panjang.

Dalam sesi edukasi tersebut, dr. Errawan juga menjelaskan berbagai teknik bedah bariatrik modern yang saat ini berkembang, seperti Sleeve Gastrectomy (SG), Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB), Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch (BPD-DS), hingga Sleeve Gastrectomy with Proximal Jejunal Bypass (PJB-S).

Salah satu prosedur yang paling banyak dipilih adalah Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) karena dinilai relatif sederhana, memiliki angka komplikasi yang rendah, memberikan penurunan berat badan yang cepat, serta masa rawat inap yang lebih singkat.

Meski demikian, keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada tindakan operasi, tetapi juga pada kepatuhan pasien dalam menjalani pola makan sehat pasca operasi, konsumsi vitamin, olahraga rutin, dan perubahan gaya hidup secara menyeluruh.

Dr. Errawan juga menyoroti bahwa hingga kini prosedur bedah bariatrik masih belum mendapat dukungan pembiayaan dari asuransi maupun BPJS karena masih sering dianggap sebagai tindakan kosmetik. Padahal, sejak 2013 World Health Organization (WHO) telah menyatakan bahwa obesitas merupakan penyakit yang hampir selalu disertai berbagai penyakit penyerta seperti hipertensi, obstructive sleep apnea (OSA), hiperlipidemia, diabetes, batu empedu, gangguan hormonal, nyeri lutut, hingga varises.

Melalui kegiatan ini, RS Premier Bintaro berharap media dan masyarakat semakin memahami bahwa obesitas adalah kondisi medis yang dapat ditangani secara tepat melalui pendekatan multidisiplin dan dukungan teknologi bedah modern.

Untuk mendapatkan penanganan yang sesuai, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan dokter spesialis agar memperoleh evaluasi dan terapi yang optimal sesuai kondisi masing-masing.