Panitia SMMPTN-Barat Waspadai Modus Joki dan Kamera Tersembunyi pada Seleksi Mandiri 2026

AKM • Tuesday, 12 May 2026 - 08:36 WIB
Ki-Ka: Prof Suhendrayatna (Ketua Gugus Tugas SMMPTN Barat), Ketua SMMPTN-Barat 2026, Prof. Ibrahim, Prof Supriyanto (Sekretaris Tim SMMPTN-Barat), Koordinator Bidang Sospro SMMPTN-Barat 2026 Ahmad Bahrudin

Jakarta — Panitia Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri wilayah Barat (SMMPTN-Barat) 2026 mewaspadai berbagai potensi kecurangan dalam pelaksanaan ujian seleksi tahun ini. Modus yang paling sering diantisipasi ialah penggunaan joki hingga alat bantu elektronik tersembunyi saat ujian berlangsung.

Ketua Panitia SMMPTN-Barat 2026, Prof. Ibrahim, mengatakan pola kecurangan yang dihadapi hampir serupa dengan yang ditemukan dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tingkat nasional.

“Secara umum trennya hampir mirip dengan seleksi SNBT biasanya. Jadi misalnya mereka menggunakan joki,” ujar Ibrahim dalam konferensi pers SMMPTN-Barat 2026 di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Menurut Ibrahim, titik paling rawan terjadi saat proses penyaringan peserta sebelum memasuki ruang ujian. Karena itu, verifikasi identitas dan pencocokan foto peserta diperketat di seluruh lokasi ujian.

“Rentannya itu adalah proses screening untuk siapa yang masuk karena joki itu menjadi salah satu yang paling sering terjadi,” katanya.

Selain praktik joki, panitia juga mengantisipasi penggunaan perangkat elektronik tersembunyi yang digunakan peserta untuk menerima bantuan jawaban dari luar.

“Variasinya agak menarik, misalnya mereka menggunakan kamera di pulpennya, kemudian kadang-kadang juga ada bisikan-bisikan dengan alat yang di telinga,” ungkap Ibrahim.

Meski demikian, dia menyebut dalam dua tahun terakhir panitia tidak menemukan kasus kecurangan serupa maupun data anomali yang mencurigakan selama pelaksanaan seleksi. Namun, pengalaman dari SNBT tetap dijadikan bahan evaluasi dan antisipasi.

“Belajar dari pengalaman SNBT itu juga kita wanti-wanti data anomalinya yang mungkin saja bisa terjadi,” ujarnya.

Untuk mencegah kecurangan, panitia melibatkan seluruh perguruan tinggi negeri peserta guna memperketat pengawasan di lokasi ujian. Pengawas ujian juga akan mendapatkan pembekalan khusus mengenai pola-pola kecurangan yang kerap ditemukan.

Program studi favorit seperti Kedokteran disebut menjadi perhatian utama dalam pengawasan karena tingginya minat peserta. Panitia juga memantau kemungkinan adanya data anomali, termasuk ketidakwajaran antara domisili peserta dengan program studi yang dipilih.

“Potensi-potensi kecurangan juga mungkin saja ada, sama seperti SNBT secara nasional. Tapi kami terus melakukan pengetatan,” tegasnya.

Dalam pengawasan eksternal, panitia kembali melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memantau pelaksanaan seleksi.

“Kami sudah melibatkan teman-teman dari KPK untuk mengawasi, termasuk selalu kita serahkan POB kita kepada teman-teman untuk mengawasi,” kata Ibrahim yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Bangka Belitung.

Sementara itu, pendaftaran SMMPTN-Barat 2026 telah dibuka sejak 4 Mei dan berlangsung hingga 11 Juni 2026 melalui laman resmi pendaftaran.smmptnbarat.id. Jalur ini menjadi alternatif bagi calon mahasiswa yang belum lolos SNPB maupun SNBT.

Tahun ini, sebanyak 27 perguruan tinggi negeri di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Barat mengikuti SMMPTN-Barat dengan total 1.013 program studi dan kuota 20.035 mahasiswa baru.

Biaya pendaftaran ditetapkan sebesar Rp375 ribu, sama seperti tahun sebelumnya. Peserta dapat memilih dua program studi dari rumpun saintek maupun soshum, serta bebas menentukan lokasi ujian yang berbeda dengan kampus tujuan.

Panitia menargetkan jumlah peserta tahun ini dapat menyamai capaian tahun lalu yang mendekati 30 ribu pendaftar. Hingga hari peluncuran resmi, jumlah pendaftar tercatat telah melampaui 2.000 peserta.