
Makkah - Bayang-bayang keputusasaan sempat menghinggapi benak Tsamrotul Fuadah (53) manakala tubuhnya terperosok di anak tangga Masjid Islamic Center BSD, Tangerang Selatan, Banten, seusai upacara pelepasan jemaah haji. Insiden nahas pada H-1 keberangkatan itu mencabik otot kakinya hingga mengharuskannya dievakuasi keluar barisan menggunakan ambulans.
Namun, rintihan kesakitan nyatanya tak mampu membungkam panggilan Ilahi yang telah ia nanti-nantikan selama 15 tahun lamanya. Kisah kebangkitan spiritual ini tercurah dari bibirnya saat berbincang dengan Tim Media Center Haji PPIH Arab Saudi usai menuntaskan ibadah umrah wajib di Makkah.
"Alhamdulillah dengan kondisi keterbatasan saya, saya diberi kesempatan untuk bersimpuh memuji asma-asma Allah dan memenuhi undangan beliau," ujar Fuadah memanjatkan syukur dengan suara bergetar.
Takdir rupanya menuntut kesabaran ekstra setelah rontgen di Madinah mengungkap fakta bahwa kakinya bukan sekadar cedera, melainkan patah di bawah lutut. Perempuan asal Banten ini terpaksa menyerahkan dirinya di meja operasi selama lima setengah jam demi menyambung kembali harapannya bertawaf.
Beruntung, ia tidak dibiarkan bertarung sendirian berkat kehadiran teman-teman sekamar berhati emas yang rela merawatnya layaknya saudari kandung. Perbedaan latar belakang seketika lebur digantikan oleh rasa solidaritas yang kental.
"Waktu itu memang dengan segala keterbatasan ibu yang nyeri sekali, kami saling membantu untuk bagaimana bisa meringankan nyerinya," cerita Dian, rekan satu kamar yang selalu mendampingi.
Poros kekuatan sejati Fuadah sejatinya bersumber dari putra kandungnya, Muhammad Amri Lubab (24), yang berangkat menambal porsi mendiang sang ayah. Pemuda belia ini menjelma menjadi benteng pelindung yang rela menguras keringat demi kenyamanan sang ibunda tercinta.
"Harapan Amri ke Mama dan keluarga semuanya, semoga bisa umrah, bisa haji dalam keadaan sembuh," ungkap Amri dengan sorot mata penuh keteduhan.
Hati sang ibu luluh lantak oleh haru ketika Amri bersikeras menolak digantikan siapa pun saat harus mendorong kursi rodanya membelah lautan manusia di Masjidil Haram. Pengabdian sang anak menyiratkan kisah klasik tentang pengorbanan tanpa batas seorang anak manusia kepada rahim yang melahirkannya.
"Jangankan mendorong, menggendong pun Amri siap karena ingat cerita sahabat Nabi Uwais Al Qarni," lirih Fuadah mengenang bakti putranya.
Di balik hangatnya pelukan keluarga tersebut, ada tangan-tangan tulus dari petugas sektor haji yang memastikan kebutuhan biologis Fuadah terpenuhi dengan bermartabat. Pelayanan harian ini menjadi bukti sahih bahwa negara hadir merengkuh jemaahnya di setiap titik kelemahan mereka.
"Kami dari tim landis melakukan perawatan diri beliau berupa mandi pada pagi hari untuk kebersihan dirinya, mengganti popoknya, kemudian mengganti pakaian dalamnya," papar Sugita Esadora, Koordinator Layanan Lansia dan Disabilitas Sektor 10 Al Ziziyah, memastikan layanan negara berjalan prima.
Pengabdian para petugas haji yang tak pernah terekspos ini melukiskan mahakarya dedikasi yang menjadi urat nadi penyelenggaraan haji 2026. Keikhlasan mereka melayani tamu Allah menjadi jaminan mutlak bagi keluarga di Tanah Air bahwa setiap tetes keringat jemaah akan dikawal hingga tuntas. (NWK/MCH 2026)