Tekan Fatalitas Usia Produktif, Pakar Usulkan Kurikulum Keselamatan Lalu Lintas Sejak Dini 

MUS • Thursday, 30 Apr 2026 - 10:09 WIB

Jakarta – Lonjakan angka kecelakaan yang melibatkan usia produktif di Indonesia memicu tuntutan mendesak bagi pemerintah untuk segera mengintegrasikan pendidikan keselamatan lalu lintas ke dalam kurikulum pendidikan formal, mulai dari tingkat sekolah dasar. Langkah ini dinilai sebagai investasi jangka panjang yang krusial demi menyelamatkan masa depan bangsa.

Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menekankan, pendekatan di mancanegara dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam membangun budaya tertib di jalan raya.

"Pendidikan keselamatan lalu lintas di mancanegara umumnya tidak hanya berfokus pada pengenalan rambu, tetapi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan pembentukan karakter sejak usia dini. Pendekatannya sering kali menggabungkan aspek psikologi, infrastruktur yang mendukung pembelajaran, serta penegakan hukum yang ketat," ungkap pakar transportasi ini, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/4) 

Beberapa negara maju telah membuktikan efektivitas integrasi pendidikan transportasi. Belanda, misalnya, mewajibkan anak-anak mengikuti Ujian Lalu Lintas Nasional yang menggabungkan teori dan praktik langsung. Sementara itu, Jepang menitikberatkan pada aspek etika berkendara yang dikenal dengan konsep Omoiyari (empati dan tenggang rasa).

"Sedangkan Jerman memiliki sistem yang sangat terstruktur dalam mendidik calon pengemudi maupun pejalan kaki. Polisi lalu lintas secara rutin datang ke sekolah-sekolah untuk memberikan materi dan memandu simulasi bersepeda bagi siswa kelas 4 SD," tambah Djoko.

Memutus Rantai Kecelakaan Usia Muda

Di Indonesia, urgensi pengintegrasian pendidikan ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan langkah strategis untuk menekan angka fatalitas. Data Korlantas Polri menunjukkan bahwa mayoritas korban kecelakaan lalu lintas berada pada rentang usia remaja hingga dewasa muda.

Faktor kebutuhan mobilitas sering kali memaksa pelajar untuk berkendara di bawah umur. "Banyak siswa SMP dan SMA di Indonesia yang sudah mengendarai sepeda motor sebelum memiliki SIM karena kebutuhan mobilitas. Kurikulum keselamatan memberikan pemahaman mengenai risiko teknis dan hukum yang selama ini sering diabaikan. Selain itu, untuk melindungi usia produktif dari kecelakaan berarti melindungi potensi ekonomi dan masa depan bangsa," tegasnya. 

Untuk mencapai efektivitas maksimal, pendidikan keselamatan jalan di Indonesia idealnya tidak berdiri sendiri sebagai teori di buku teks. Materi lalu lintas dapat disisipkan ke dalam mata pelajaran eksakta, seperti matematika untuk menghitung jarak pengereman, atau fisika untuk memahami konsep momentum dan gaya gesek saat berkendara.

"Tanpa kurikulum yang kuat, upaya perbaikan infrastruktur jalan yang masif di Indonesia tidak akan memberikan dampak maksimal, karena faktor manusia (human error) tetap menjadi penyebab utama kecelakaan," pungkas Djoko.