Lebih dari 18 Ribu Proposal Lolos Pendanaan Riset 2026, Dorong Dampak Nyata bagi Masyarakat

AKM • Tuesday, 21 Apr 2026 - 07:32 WIB
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi menggelontorkan dana sebesar Rp 1,6868 triliun untuk mendanai 18.215 proposal riset dan pengembangan

Jakarta — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi menggelontorkan dana sebesar Rp 1,6868 triliun untuk mendanai 18.215 proposal riset dan pengembangan pada Tahun Anggaran 2026. Angka ini merupakan hasil seleksi ketat dari total 104.546 proposal yang masuk dalam sembilan program pendanaan.

Penandatanganan kontrak bagi penerima pendanaan dari empat program utama digelar di Graha Diktisaintek, Senayan, Jakarta, Senin (20/4). Program tersebut meliputi Hilirisasi Riset Prioritas, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB), serta Inovasi Seni Nusantara.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menekankan bahwa pendanaan ini tidak semata bertujuan menghasilkan publikasi akademik, tetapi harus mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.

“Mindset yang hanya untuk kepentingan pribadi harus ditanggalkan. Riset harus memberikan manfaat konkret,” ujarnya.

Ia juga mendorong para peneliti untuk menghasilkan karya besar yang mampu memberikan efek luas atau “gerakan sentrifugal” bagi masyarakat.

Dominasi Sosial Humaniora

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman menjelaskan bahwa alokasi Rp 1,7 triliun tersebut bukan keseluruhan anggaran riset nasional, melainkan bagian dari skema pendanaan yang dibuka pemerintah melalui APBN.

Menariknya, berdasarkan Rencana Induk Riset Nasional, bidang sosial humaniora menjadi kontributor terbesar dalam proposal yang didanai, yakni mencapai 38,36 persen atau 6.819 proposal. Disusul bidang kesehatan (20,89 persen) dan pangan (17,01 persen).

Menurut Fauzan Adziman, dominasi sosial humaniora menunjukkan bahwa riset tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi hukum, ekonomi, hingga penerimaan masyarakat terhadap inovasi teknologi.

“Dalam hilirisasi misalnya, aspek sosial seperti bisnis, pendidikan, dan penerimaan masyarakat menjadi sangat penting,” jelasnya.

Sebaran Program dan Pendanaan

Dari total 18.215 proposal yang lolos, program Penelitian menjadi penerima terbesar dengan 13.028 proposal senilai Rp 1,0435 triliun. Sementara program Pengabdian kepada Masyarakat mendanai 3.328 proposal dengan nilai Rp 167,2 miliar.

Program Hilirisasi Riset Prioritas memperoleh Rp 318,1 miliar untuk 925 proposal, sementara RIKUB mendapatkan Rp 62,4 miliar untuk 102 proposal. Adapun program Inovasi Seni Nusantara menerima Rp 17,5 miliar untuk 244 proposal.

Program lainnya meliputi Pengujian Model dan Prototipe, Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT), PHC Nusantara, serta Mahasiswa Berdampak dengan total ratusan proposal tambahan.

Fokus pada Industri Strategis

Jika dilihat dari perspektif industri strategis nasional yang diperkenalkan dalam Konvensi Sains Teknologi dan Industri Indonesia 2025, bidang kesehatan menjadi fokus utama dengan porsi 26,71 persen, diikuti pangan (25,15 persen), serta hilirisasi dan industrialisasi (15,74 persen).

Selain itu, sektor digital seperti kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor juga mulai menunjukkan peran signifikan dengan porsi 15,50 persen.

Dorongan Hilirisasi dan Dampak Nyata

Program pendanaan ini menegaskan arah kebijakan pemerintah yang tidak lagi berhenti pada riset dasar, melainkan mendorong hilirisasi dan implementasi hasil penelitian ke dalam sektor industri dan masyarakat luas.

Dengan skala pendanaan yang besar dan cakupan bidang yang luas, pemerintah berharap riset nasional mampu menjadi motor penggerak inovasi sekaligus solusi atas berbagai tantangan pembangunan, mulai dari pangan, kesehatan, hingga transformasi digital.