FILM Lee Cronin's The Mummy dengan Kengerian Klasik dan Horor yang Personal

FAZ • Wednesday, 15 Apr 2026 - 13:10 WIB

Sutradara: Lee Cronin

Produser: James Wan, Jason Blum, John Keville
Pemeran: Jack Reynor, Laia Costa, May Calamawy
Durasi: 2 jam 13 menit
Distributor: Warner Bros. Pictures
Mulai tayang di bioskop Indonesia, termasuk IMAX: 15 April 2026
 
Lee Cronin's The Mummy dibuka dengan adegan dalam suatu keluarga di Mesir yang tampaknya tak seperti biasa. Mereka memiliki piramida misterius berisi mumi di kediamannya. Kejadian menakutkan dalam keluarga tersebut menjadi landasan cerita yang akan dijelaskan sepanjang film. 
 
Berbeda dengan pendahulunya versi awal tahun 1932 atau 1999 atau 2017, mumi yang ditampilkan tak lagi berkaitan dengan pengalaman penjelajah atau prajurit yang berusaha mengungkap misteri mumi petinggi Mesir. 
 
Kali ini sentral cerita berada pada keluarga, pendekatan personal yang justru menguatkan elemen ketakutan sekaligus dilema. Haruskah kita menjadi takut pada anggota keluarga sendiri yang telah menjadi mumi?
 
Seorang jurnalis televisi yang juga ayah, Charlie Cannon (Jack Raynor) sedang bertugas di Mesir. Bersama istrinya, Lari (Laia Costa) yang bekerja sebagai tenaga medis, keluarga Cannon dikisahkan hidup seperti biasa dengan konflik kecil terutama di antara anak mereka: Seb dan Katie. 
 
Saat baru saja bertengkar dengan Seb, Katie menyendiri ke pekarangan belakang rumahnya. Di sana dia dibujuk penyihir yang berhasil menculik Katie. Charlie sebenarnya sempat menemukan jejak Katie, mengejar sampai ke pusat kota yang diterjang badai gurun. 
 
Namun, upaya pencarian tak membuahkan hasil. Katie yang masih SD dinyatakan hilang. Sampai 8 tahun kemudian, dikabarkan ditemukan kembali dalam keadaan hidup. Masalahnya, Katie tak kembali seperti dulu, dia hidup dalam sarkofagus kuno berusia 3 ribu tahun.
 
Pulangnya Katie tentu disambut seluruh anggota keluarga. Rasa bersalah atau tuduhan saling menyalahkan yang selama ini meliputi Charlie dan Lari, kini berusaha dipupus seiring hadirnya Katie. Tetapi hal itu tak sepenuhnya bisa luluh sepenuhnya. 
 
Katie dalam bentuk mumi justru mulai meneror keluarga Cannon yang kini tinggal di area pedesaan Amerika Serikat, rumah nenek atau ibu dari Lari. Keyakinan kedua orang tua terutama Lari untuk memulihkan kondisi Katie, mulai menemui jalan buntu.
 
Kengerian demi kengerian terjadi mulai dari hal-hal sederhana seperti kuku panjang Katie yang sulit digunting, sampai pertumpahan darah dan pertaruhan nyawa. Penonton akan diajak mengikuti elemen horor klasik yang dibangun lewat visualisasi secara fisik, kontradiksi gertak gigi dan tawa menakutkan, serta adegan sadis tanpa ampun.
 
Lee Cronin memang punya bakat menciptakan atmosfer yang mencekam—terlihat dari kesuksesannya di Evil Dead Rise—dan membawa elemen keluarga yang retak ke dalam mitos The Mummy adalah pendekatan yang segar dan personal dibandingkan versi aksi-petualangan sebelumnya.
 
Tim Produksi "Monster" juga menjadi jaminan horor sukses khas kolaborasi antara James Wan (Atomic Monster) dan Jason Blum (Blumhouse) menghadirkan kualitas horor yang solid dan sukses secara komersial. 
 
Cronin menggambarkan monster sebagai metafora dari sesuatu yang tersembunyi—sebuah “rahasia yang terkubur” yang perlahan terungkap. Alih-alih langsung menampilkan sosok mengerikan, dia perlahan menjajikan sosok yang bisa dikendalikan. 
 
Adegan-adegan mengerikan bisa berlangsung kapan saja, dalam gelap malam maupun saat kondisi terang dan nyata di tengah banyak orang sekalipun. Monster dalam The Mummy bisa hadir di siang hari, dalam kondisi terang dan nyata. 
 
Dengan jalinan cerita yang lebih intens, penonton akan diajak secara bertahap memahami latar mumifikasi lebih dari sekadar upaya balas dendam mumi yang biasanya diceritakan telah dikubur hidup-hidup pada ribuan tahun lalu.