Berlangsung Meriah, Lebaran Betawi Berpotensi Jadi Produk Wisata Global

AKM • Monday, 13 Apr 2026 - 06:45 WIB
Gelaran Lebaran Betawi 2026 yang berlangsung selama tiga hari, 10–12 April 2026, di Lapangan Banteng, Jakarta (Istimewa)

Jakarta — Sukses dan meriahnya gelaran Lebaran Betawi 2026 yang berlangsung selama tiga hari, 10–12 April 2026, di Lapangan Banteng mendapatkan banyak apresiasi. Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menilai tingginya antusiasme masyarakat, ragam atraksi budaya, serta keterlibatan pelaku UMKM dinilai menjadi bukti bahwa Lebaran Betawi semakin relevan dan dicintai lintas generasi.

“Lebaran Betawi tahun ini terasa semakin hidup, inklusif, dan membanggakan. Ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga ruang kebersamaan yang memperkuat identitas Jakarta sebagai kota yang berakar kuat pada tradisi. Dengan kolaborasi dan konsistensi, saya optimistis, dari sebuah hajatan lokal, Lebaran Betawi mampu menjadi produk wisata global,” ujar Fahira dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (12/4).

Gelaran Lebaran Betawi 2026 menghadirkan beragam kekayaan budaya, mulai dari ondel-ondel, lenong, silat, hingga kuliner khas seperti kerak telor dan dodol Betawi. Selain sebagai hiburan, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda di tengah arus modernisasi.

Menurut Fahira, keberhasilan penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum penting untuk mendorong Lebaran Betawi naik kelas, tidak hanya sebagai hajatan lokal, tetapi juga sebagai produk wisata budaya berskala global.

Ia menilai, dengan potensi yang dimiliki, Lebaran Betawi sangat mungkin bertransformasi menjadi event kelas dunia, sejajar dengan Sapporo Snow Festival di Jepang, Holi Festival di India, Taiwan Lantern Festival, hingga Jember Fashion Carnaval yang telah mendunia.

Ketua Umum Bang Japar ini mengungkapkan sejumlah alasan kuat mengapa Lebaran Betawi memiliki potensi global. Salah satunya adalah karakter budaya Betawi yang unik sebagai hasil akulturasi berbagai budaya dunia, sehingga memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan festival lainnya.

Selain itu, kekayaan atraksi budaya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sarat nilai filosofis—seperti tradisi hantaran, nyorog, dan silaturahmi lintas generasi—menjadi kekuatan tersendiri. Lebaran Betawi juga dinilai sebagai etalase ekonomi kreatif, khususnya bagi UMKM kuliner dan produk budaya lokal.

“Lebaran Betawi ini lengkap. Ada budaya, ada kuliner, ada nilai spiritual, ada kebersamaan. Ini adalah paket lengkap yang sangat potensial menjadi magnet wisata global jika dikelola dengan tepat,” ujarnya.

Strategi Kunci 

Untuk mewujudkan hal tersebut, Fahira memaparkan sejumlah strategi kunci. Di antaranya adalah penetapan kalender event tahunan yang pasti, penguatan branding global dengan ikon khas seperti ondel-ondel, serta peningkatan kualitas pertunjukan agar lebih atraktif dan berstandar internasional.

Ia juga mendorong hadirnya pengalaman interaktif bagi pengunjung, seperti workshop budaya dan paket wisata tematik “Lebaran Betawi Experience”, serta penguatan promosi global melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku industri pariwisata dan influencer internasional.

Selain itu, dukungan infrastruktur dan fasilitas berstandar global, seperti akses transportasi, layanan informasi multibahasa, serta kenyamanan kawasan, juga menjadi faktor penting dalam menarik wisatawan mancanegara.

“Jakarta tidak hanya harus maju secara ekonomi, tetapi juga harus kuat secara identitas budaya. Lebaran Betawi adalah salah satu wajah Jakarta yang bisa kita tampilkan ke dunia,” pungkasnya.