Laporan Economic Insights Tegaskan Peran Agribisnis sebagai Tulang Punggung Investasi Indonesia

MUS • Wednesday, 1 Apr 2026 - 20:18 WIB

Jakarta - Sektor agribisnis kembali terbukti menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia dalam hal investasi, perdagangan, dan ketenagakerjaan. Hal ini dipaparkan dalam laporan "Economic Insights: Unlocking Indonesia’s Agri-Food Powerhouse" yang diluncurkan AFBA bersama Oxford Economics dan FIA pada Rabu (1/4). Laporan tersebut menggarisbawahi pentingnya memperkuat potensi pangan nasional untuk daya saing global.

Peluncuran laporan ini mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin industri dan pemangku kepentingan regional untuk membahas bagaimana sektor agribisnis dapat dioptimalkan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia di kawasan ASEAN.

Membuka acara, Satvinder Singh, Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi ASEAN, menekankan pentingnya kolaborasi regional dalam memperkuat sistem pangan dan rantai pasok di Asia Tenggara. 

"Pertanian bukan sekadar sebuah sektor tetapi sekaligus tulang punggung sejati bagi ekonomi, ketahanan pangan dan stabilitas sosial kita. ASEAN merepresentasikan pasar konsumen yang dinamis dengan 700 juta orang dan kita harus menjaga serta menumbuhkan pasar ini secara efektif bersama-sama melalui kerangka kerja," ujar Satvinder Singh

Adapun kerangka kerja ini, lanjut Satvinder, meliputi ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) yang telah ditingkatkan dan Digital Economy Framework Agreement (DEFA). "Kita menyediakan kepastian hukum dan konektivitas yang diperlukan bagi bisnis global untuk berkembang di kawasan ini," imbuh Satvinder Singh.

Sementara itu dalam pidato utama, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di Kementerian PPN/Bappenas, memaparkan arah transformasi sektor agribisnis dalam visi Indonesia Emas 2045. 

“Saat ini kami sedang mengimplementasikan transformasi struktural yang berfokus pada peningkatan produktivitas pertanian dan menghubungkannya dengan pengembangan agro-industri kami. Agenda ini yang didorong oleh praktik berkelanjutan dan kemajuan komunitas akan membantu kita mencapai konsep holistik resiliensi nasional, tidak hanya terbatas pada pertahanan tradisional, tetapi memastikan ketahanan pangan dan gizi bagi populasi kita yang terus tumbuh," tandas Leonardo. 

Transformasi tersebut sejalan dengan agenda RPJMN 2025 - 2029 yang menitikberatkan pada peningkatan nilai tambah agro-industri, penguatan ketahanan pangan serta pengurangan kemiskinan di pedesaan dan kesenjangan wilayah.

BACA JUGA: Pasca Idul Fitri, BULOG Percepat Penyaluran Bantuan Pangan ke Wilayah Kepulauan

Upaya ini didorong melalui reformasi kebijakan, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur dan logistik serta penguatan kemitraan publik dan swasta.

Dari sisi riset, James Lambert, Direktur Konsultasi Ekonomi di Oxford Economics, menyoroti besarnya skala dan kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional. 

“Skala sektor agribisnis di Indonesia sangat substansial, berfungsi sebagai pilar yang menopang ekonomi secara luas. Ditengah lingkungan perdagangan global yang semakin terfragmentasi, membangun resiliensi melalui penguatan fondasi domestik dan kepastian regulasi sangat krusial, karena ketidakpastian kebijakan dapat menjadi beban nyata bagi investasi dan produktivitas jangka panjang," urai James Lambert.

James Lambert juga menekankan pentingnya modernisasi infrastruktur logistik dan stabilitas kebijakan untuk menjaga daya saing Indonesia.
Sementara itu, Pham Quang Minh dari Sekretariat ASEAN menegaskan komitmen kawasan dalam memperkuat ketahanan dan keberlanjutan sektor pangan. 

“ASEAN berfokus pada resiliensi dan keberlanjutan melalui Strategic Plan of Action for Food, Agriculture and Forestry (SPA-FAF). Kami bertujuan untuk menciptakan sektor agribisnis yang inklusif dan tangguh yang memastikan rantai pasok yang stabil, terutama melalui inisiatif seperti kerangka kerja ASEAN Integrated Food Security (AIFS) dan rencana aksi 5 tahunan kami," papar Pham Quang Minh.

Dari perspektif industri, Adhi Lukman, Ketua Umum GAPMMI, menekankan kontribusi signifikan sektor makanan dan minuman terhadap perekonomian nasional sekaligus tantangan yang dihadapi pelaku usaha. 

“Industri makanan dan minuman memainkan peran kritikal, berkontribusi lebih dari 7% terhadap total PDB Indonesia. Meskipun kami terus berinovasi dan berkolaborasi dengan petani lokal untuk memenuhi permintaan konsumen, kami menghadapi tantangan seperti kenaikan biaya input dan gangguan rantai pasok. Kami membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah untuk menghapus hambatan regulasi dan memfasilitasi impor bahan baku esensial guna mempertahankan daya saing kami serta mengelola inflasi," jelas Adhi Lukman.

Diskusi panel yang melibatkan perwakilan pemerintah, industri dan akademisi turut menggarisbawahi sejumlah prioritas untuk memperkuat daya saing sektor agribisnis, termasuk efisiensi regulasi, investasi infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan integrasi perdagangan regional.

Menutup acara, Pichet Itkor, Presiden AFBA, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam jangka panjang. 

“Makanan dan minuman adalah bisnis siklus panjang yang membutuhkan lingkungan regulasi yang stabil, dapat diprediksi dan sederhana. FIA dan mitra kami berkomitmen untuk bekerja bersama pemerintah dalam jangka panjang guna memperkuat kolaborasi dan memajukan integrasi Indonesia ke dalam rantai pasok regional dan global," tukas Pichet Itkor.