Belajar dari Iran, Indonesia Berpeluang Jadi Poros Pangan Dunia

AKM • Wednesday, 25 Mar 2026 - 16:21 WIB
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama (Istimewa)

Jakarta - Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat kekuatan pangan dunia. Hal tersebut disampaikannya dengan mencontoh strategi yang diterapkan Iran dalam memaksimalkan komoditas unggulan sebagai kekuatan ekonomi global.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama menyatakan Iran mampu menunjukkan pengaruhnya di kancah internasional melalui komoditas strategis seperti minyak dan pistachio. Posisi tersebut, kata dia, menjadi bukti bahwa kekuatan sebuah negara dapat dibangun dari penguasaan komoditas tertentu yang dibutuhkan dunia.

“Iran berhasil menempatkan diri sebagai salah satu penentu ketersediaan minyak dunia dan komoditas unggulan lainnya. Ini menunjukkan pentingnya fokus pada kekuatan sumber daya yang dimiliki,” ujar Lia dalam keterangan tertulis, Jakarta, Rabu (25/3).

Ia menilai, Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah besar bahkan lebih beragam dibandingkan Iran. 

“Berbagai komoditas unggulan seperti rempah-rempah, kelapa sawit, dan kakao dinilai mampu menjadi penopang utama jika dikelola secara maksimal dan berkelanjutan,” tuturnya.

Keberanian Kurangi Impor

Lia menekankan bahwa langkah menuju kemandirian pangan harus dimulai dari keberanian untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, khususnya untuk komoditas yang sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri.

“Jika kita masih bergantung pada impor untuk kebutuhan yang bisa dipenuhi sendiri, maka sulit bagi Indonesia untuk diakui sebagai pemain utama dalam rantai pasok global,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa upaya tersebut perlu didukung dengan kebijakan yang menyeluruh, mulai dari penguatan sektor hulu seperti peningkatan produktivitas petani, hingga sektor hilir melalui pengembangan industri pengolahan.

Selain itu, keberpihakan terhadap petani dan pelaku usaha lokal menjadi kunci agar ekosistem pangan nasional dapat tumbuh kuat dan berdaya saing tinggi di pasar internasional.

Lia juga mendorong pemerintah untuk menjadikan momentum saat ini sebagai titik awal dalam merumuskan strategi besar nasional. Menurutnya, Indonesia tidak hanya harus berperan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga sebagai pengendali dalam rantai distribusi global.

“Ini bukan sekadar soal produksi, tetapi tentang bagaimana Indonesia mengambil posisi strategis di tingkat global. Kita punya sumber daya, tinggal bagaimana keberanian kebijakan diarahkan untuk memperkuat kemandirian,” pungkasnya.