Syarat TOEFL LPDP, Dinilai Bisa Hambat Akses Mahasiswa Kurang Mampu

AKM • Sunday, 15 Mar 2026 - 13:29 WIB
Ikustrasi Beasiswa LPDP dan Syarat Toefl ( Sindonews)

Jakarta - Kritik Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait tingginya persyaratan skor TOEFL dalam program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Anggota DPD RI, Lia Istifhama menilai standar skor TOEFL yang terlalu tinggi berpotensi menghambat akses mahasiswa berprestasi dari keluarga ekonomi menengah ke bawah untuk memperoleh beasiswa negara.

“Yang disampaikan Pak Menteri Bahlil sangat benar. Jika syarat TOEFL sangat tinggi, secara logika itu lebih mudah dicapai oleh mereka yang sejak awal memiliki kemampuan ekonomi untuk mengikuti kursus bahasa Inggris yang biayanya tidak murah,” ujar Perempuan yang akrab disapa Ning Lia  dalam keterangannya, Sabtu (14/3).

Politisi yang dikenal dengan tagline *Cantik* (Cerdas, Kreatif, dan Inovatif) tersebut menilai akses terhadap pelatihan bahasa Inggris berkualitas di Indonesia masih belum merata. Kondisi ini membuat mahasiswa dari latar belakang ekonomi terbatas menghadapi tantangan tambahan untuk memenuhi standar bahasa yang tinggi dalam proses seleksi beasiswa.

Anggota DPD RI, Lia Istifhama Akrab Disapa Ning Lia

Ning Lia mengatakan kebijakan tersebut juga perlu dilihat dari sisi arah pemanfaatan dana LPDP yang nilainya mencapai triliunan rupiah setiap tahun.

Ning Lia menilai syarat TOEFL yang tinggi secara tidak langsung mendorong orientasi program beasiswa lebih banyak ke studi luar negeri dibandingkan penguatan perguruan tinggi dalam negeri.

“Dengan syarat tersebut, kesempatan LPDP justru lebih banyak mengarah pada studi di luar negeri. Padahal dana negara yang besar itu seharusnya juga difokuskan untuk memperkuat perguruan tinggi di Indonesia,” tegasnya.

Alokasi Beasiswa

Putri tokoh Nahdlatul Ulama Jawa Timur, almarhum KH Masykur Hasyim, itu juga mendorong pemerintah menyeimbangkan alokasi beasiswa antara studi luar negeri dan dalam negeri.

Sebagai anggota DPD RI sekaligus anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), ia menilai dukungan terhadap perguruan tinggi nasional perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di tingkat global.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak kampus berkualitas yang layak diperkuat melalui dukungan riset, kebijakan pendidikan, serta pembiayaan dari negara.

“Minimal persentasenya seimbang dengan studi luar negeri. Jangan sampai pendidikan dalam negeri justru tersisih,” kata Ning Lia.

Ia berharap program LPDP benar-benar menjadi instrumen pemerataan akses pendidikan bagi seluruh anak bangsa sekaligus menjadi motor penguatan kualitas pendidikan tinggi nasional di masa depan.

“ Pemerataan  akses pendidikan bagi seluruh anak bangsa sekaligus menjadi motor penguatan kualitas pendidikan tinggi nasional di masa depan,” pungkasnya.