‎‎Mahasiswi UIN Suska Asal Kepri Dibacok Jelang Sidang Skripsi, ini Pernyataan Sikap Ikatan Keluarga Bintan

MUS • Thursday, 26 Feb 2026 - 23:33 WIB

Jakarta - Aksi pembacokan terhadap mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska) jelang sidang skripsi mengguncang publik. Korban diketahui merupakan putri daerah asal Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri).

‎Peristiwa itu memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan, termasuk Ikatan Keluarga Bintan Riau. Ketua Ikatan Bintan Riau, H Hasyim Aliwa, langsung menjenguk korban yang saat ini dirawat intensif di RSUD Arifin Ahmad.

‎“Ini peristiwa yang sangat menyayat hati. Adik kita ini sedang berada di fase penting hidupnya, hendak sidang skripsi, tapi justru menjadi korban kekerasan brutal. Ini bukan hanya luka fisik, ini luka batin dan luka bagi kita semua,” ujar Hasyim kepada wartawan, Kamis (26/2).

‎Insiden terjadi di lingkungan kampus saat korban bersiap mengikuti sidang skripsi. Pelaku yang diduga memiliki hubungan pribadi dengan korban, tiba-tiba datang dan melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam.

Akibatnya, korban mengalami luka serius di bagian kepala dan tangan. Korban segera dilarikan ke RSUD Arifin Ahmad untuk mendapat penanganan medis. Sementara pelaku telah diamankan aparat kepolisian dan kini menjalani proses hukum.

‎Kejadian ini sempat membuat suasana kampus mencekam dan mengejutkan mahasiswa serta dosen yang berada di lokasi.

Bintan Turut Berduka

Hasyim menegaskan, masyarakat Bintan ikut merasakan duka atas kejadian tersebut. Ia menyebut korban adalah bagian dari generasi muda yang tengah berjuang mengangkat martabat keluarga melalui pendidikan.

‎“Dia datang merantau untuk menuntut ilmu, membawa harapan orang tua dan kampung halamannya. Kekerasan seperti ini tidak boleh dianggap persoalan pribadi semata. Ini persoalan kemanusiaan,” tegasnya.

Ia juga meminta aparat penegak hukum menangani kasus ini secara tegas dan transparan.

‎“Kami percaya proses hukum akan berjalan. Tapi pesan kami jelas tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, apalagi terhadap perempuan. Ini harus menjadi peringatan keras bagi siapa pun,” ujarnya.

‎Seruan untuk Generasi Muda

‎Hasyim mengajak generasi muda untuk menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi. Menurutnya, persoalan hubungan atau emosi tidak boleh diselesaikan dengan tindakan brutal.

‎“Kalau ada masalah, selesaikan dengan dialog, dengan kepala dingin. Jangan pernah membiarkan amarah mengalahkan akal sehat. Satu tindakan nekat bisa menghancurkan masa depan banyak orang,” katanya.

‎Ia juga memastikan Ikatan Keluarga Bintan Riau akan terus memantau perkembangan kondisi korban dan memberikan dukungan moril kepada keluarga.

Saat ini, korban masih menjalani perawatan intensif. Keluarga dan masyarakat berharap kondisi korban segera membaik dan dapat kembali melanjutkan cita-citanya yang sempat tertunda akibat peristiwa tersebut.