Joyful Ramadan Mubarak 1447 H, Kemenag Perkuat Layanan Keagamaan yang Inklusif dan Berdampak

AKM • Tuesday, 10 Feb 2026 - 15:35 WIB
Peluncuran Joyful Ramadan Mubarak 1447 Hijriah/2026 Masehi oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad (Istimewa)

Jakarta — Kementerian Agama meluncurkan program  Joyful Ramadan Mubarak 1447 Hijriah/2026 Masehi  sebagai upaya menghadirkan bulan suci Ramadan yang tidak hanya khusyuk secara spiritual, tetapi juga produktif secara sosial dan berdampak nyata bagi umat. Program ini menjadi bagian dari penguatan layanan keagamaan yang humanis, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu, mengatakan Joyful Ramadan dirancang untuk menegaskan peran negara dalam mendekatkan umat dengan ajaran agamanya. Menurutnya, kedekatan dengan nilai-nilai keagamaan berbanding lurus dengan terciptanya kehidupan sosial yang damai dan harmonis.

“Mandat utama Kementerian Agama adalah memastikan umat semakin dekat dengan ajaran agamanya. Ramadan merupakan momentum strategis untuk menghadirkan kedekatan itu secara nyata,” ujar Ismail saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, Joyful Ramadan memaknai Ramadan sebagai ruang transformasi yang mencakup dimensi ibadah, sosial, dan kebangsaan. Konsep ini mengedepankan ibadah yang menggembirakan, penguatan solidaritas sosial, serta produktivitas keberagamaan yang edukatif dan solutif.

Ismail menambahkan, seluruh rangkaian program Joyful Ramadan disusun secara inklusif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari ulama, organisasi kemasyarakatan keagamaan, akademisi, hingga komunitas masyarakat. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan memperkuat moderasi beragama dan harmoni sosial.

“Ramadan diharapkan melahirkan umat yang saleh secara spiritual, kuat secara sosial, dan mampu berkontribusi bagi bangsa. Negara hadir sebagai pelayan umat dan penjaga nilai-nilai keagamaan yang damai,” katanya.

Momentum Penting 

Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menyebut Joyful Ramadan sebagai agenda strategis Ditjen Bimas Islam dalam mengoptimalkan layanan keagamaan selama bulan suci. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum penting untuk menghadirkan program yang langsung menyentuh kebutuhan umat.

Abu menjelaskan, terdapat tiga fokus utama Joyful Ramadan. Pertama, penguatan layanan keagamaan melalui optimalisasi peran masjid sebagai pusat ibadah dan pemberdayaan, Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai simpul pembinaan keluarga, serta penyuluh agama sebagai agen literasi keislaman di tengah masyarakat.

“Kami memastikan layanan keagamaan selama Ramadan mudah diakses, responsif, dan memberi manfaat nyata, mulai dari bimbingan ibadah hingga edukasi zakat, wakaf, dan filantropi Islam,” ujarnya.

Fokus kedua adalah penguatan literasi keislaman melalui dakwah yang ramah, moderat, dan menyejukkan. Materi dakwah Ramadan diarahkan pada isu keluarga, ekonomi umat, serta kebangsaan, dengan pendekatan edukatif dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Seluruh aktivitas dakwah, lanjut Abu, berada dalam koridor pembinaan dan pemantauan agar selaras dengan nilai Islam yang damai dan inklusif. Kolaborasi dengan ulama, ormas Islam, akademisi, dan komunitas menjadi kunci keberhasilan penyampaian pesan keagamaan.

Adapun fokus ketiga adalah pemberdayaan sosial ekonomi umat melalui optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Program seperti Kolaborasi Indonesia Berdaya, TerasZAWA, bazar Ramadan, serta dukungan UMKM berbasis masjid diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan umat.

“Ramadan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperkokoh solidaritas sosial dan ketahanan ekonomi umat,” kata Abu.

Ia menambahkan, Joyful Ramadan 1447 H mencakup berbagai agenda nasional, antara lain Tarhib Ramadan, Bersih-Bersih Masjid, Indonesia Berdaya Ramadan, pemantauan hilal dan Sidang Isbat, hingga Takbir Akbar dan pelaksanaan Salat Idulfitri. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara terkoordinasi hingga ke tingkat daerah.

“Melalui Joyful Ramadan, kami ingin menghadirkan Ramadan yang menggembirakan, bermakna, dan berdampak. Negara hadir untuk melayani dan membersamai umat dalam menjalani ibadah dengan tenang dan penuh harapan,” pungkasnya.