FILM I Was a Stranger: Cerita Korban Perang Suriah yang Terasa Begitu Dekat

FAZ • Tuesday, 10 Feb 2026 - 11:02 WIB

Apa problem kehidupan yang sedang hadapi saat ini? Kesulitan ekonomi karena tak bisa membayar utang? Atau Anda sedang mengalami gangguan kesehatan, atau menghadapi ancaman PHK di depan mata? Tetap semangat ya.

Masalah kita tak seberat sosok Dr. Amira Homsi (diperankan oleh Yasmine Al Massri) dalam drama berlatar perang Suriah, I was A Stranger. Bayangkan tenaga kesehatan asal Suriah harus meringkuk di tempat sempit dengan muntahan peluru dan dentuman ledakan, bersama putri remajanya.

Dr. Amira terpaksa melarikan diri dari Aleppo, menjadi satu pilihan sulit mengarah pada putus asa, yang memicu serangkaian peristiwa berdampak lintas batas. Uniknya, pengalaman Dr. Amira turut bersinggungan dengan empat orang asing ke dalam badai yang sama:

Seorang penyair yang mencari rumah
Seorang tentara bergumul dengan hati nurani karena pilihan politik opisisi sang ayah
Seorang penyelundup para pengungsi yang sekadar menghidupi putra tunggalnya
Seorang kapten penjaga pantai Yunani yang terjebak antara tugas dan belas kasihan

Jalan mereka bertemu pada suatu malam di Mediterania, di mana kelangsungan hidup menjadi tidak pasti dan kemanusiaan terungkap dalam bentuknya yang paling mentah. I Was a Stranger merupakan kisah yang menegangkan dan sangat manusiawi tentang sejauh mana orang akan berupaya untuk melindungi orang yang mereka cintai.

Kita akan menyadari, perang sungguh merugikan semua pihak. Lalu penonton akan menemukan elemen paling 'relate' dengan kehidupan sehari-hari, sesungguhnya masalah kita tidaklah seberat momen pengalaman yang harus dihadapi korban perang.

Penonton diajak lebih bersyukur setelah menyadari, kita hidup jauh lebih beruntung dibanding kesulitan para pengungsi yang tak sekadar bertahan dari keegoisan penguasa melainkan turut mencari keselamatan bagi masa depan keluarga.

Melalui pesan kemanusiaan sebagai bahasa universal, menonton I was A Stranger tentang perjuangan rakyat Suriah akan menumbuhkan empati, sekaligus menyadari, setiap orang yang kita temui mungkin sedang memperjuangkan sesuatu yang berat.