Alami Peningkatan, Digitalisasi Dana Pensiun Dorong Inklusi Keuangan

AKM • Friday, 6 Feb 2026 - 08:09 WIB
Dialog Terkait Kepemilikan Perlindungan Pensiun Nasional (Istimewa).

Jakarta — Minat masyarakat terhadap instrumen dana pensiun terus mengalami peningkatan di tengah tantangan struktural rendahnya kepemilikan perlindungan pensiun nasional.

Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Avrist mencatat total aset kelolaan sebesar Rp1,32 triliun hingga akhir Desember 2025. Capaian tersebut tumbuh 9,24 persen secara tahunan, sejalan dengan peningkatan jumlah peserta yang naik 12,3 persen menjadi lebih dari 29 ribu orang. Untuk memperluas basis peserta, khususnya dari sektor informal, DPLK Avrist meluncurkan SiPURNA by DPLK Avrist, aplikasi dana pensiun digital berbasis end-to-end.

Ketua Pengurus DPLK Avrist, Firmansyah, mengatakan bahwa digitalisasi menjadi strategi penting untuk memperluas jangkauan industri dana pensiun sekaligus memperkuat inklusi keuangan.

“ Mayoritas  angkatan kerja Indonesia masih berada di sektor informal yang belum terlayani optimal oleh skema pensiun konvensional,”ujar Firmansyah dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Menurut Firmasnsyah, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2025 mencapai sekitar 154 juta orang, dengan 57,80 persen di antaranya bekerja di sektor informal. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah peserta dana pensiun per Juli 2025 baru mencapai 29,1 juta orang, atau sekitar 18,89 persen dari total angkatan kerja. 

“Kesenjangan tersebut menunjukkan potensi pasar yang besar bagi industri dana pensiun, terutama melalui pendekatan berbasis teknologi. Masih terdapat sekitar 80 persen pekerja yang belum memiliki perlindungan pensiun. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri untuk menghadirkan produk yang lebih adaptif dan terjangkau,” katanya.

Melalui aplikasi SiPURNA, peserta dapat merencanakan kebutuhan dana pensiun secara mandiri, melakukan simulasi keuangan, serta memantau pertumbuhan saldo secara real time. Model layanan digital ini dinilai mampu menekan biaya distribusi sekaligus memperluas penetrasi ke segmen pekerja informal dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari sisi industri, transformasi digital juga berpotensi meningkatkan efisiensi pengelolaan dana pensiun. Integrasi sistem digital dalam pengelolaan iuran dan administrasi peserta dinilai dapat memperkuat tata kelola sekaligus mendukung pertumbuhan aset jangka panjang.

Masih Rendah

Perencana keuangan Nadia Harsya menilai rendahnya tingkat kepesertaan dana pensiun dapat berdampak pada stabilitas ekonomi rumah tangga di masa depan. 

“Tanpa perencanaan pensiun yang memadai, masyarakat berisiko mengalami tekanan finansial setelah memasuki usia tidak produktif, yang pada akhirnya dapat memengaruhi konsumsi dan kesejahteraan ekonomi nasional,” tegasnya.

Menurut Nadia, akses digital yang lebih luas terhadap produk dana pensiun berpotensi mendorong perubahan perilaku keuangan masyarakat ke arah yang lebih berkelanjutan.

“Dengan tren pertumbuhan aset dan peserta yang positif, serta dukungan inovasi digital, DPLK Avrist menilai penguatan peran dana pensiun menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung stabilitas sistem keuangan jangka panjang dan pendalaman pasar keuangan domestik,” pungkasnya.