
Genre: Sci-fi, Suspense
Sutradara: Timur Bekmambetov
Pemeran: Chris Pratt, Rebecca Ferguson
Penulis: Marco van Belle
Durasi: 1 jam 40 menit
Format: IMAX
Distributor: Sony Pictures Indonesia
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 21 Januari 2026
Sci-fi Mercy bercerita tentang sistem hukum masa depan, ketika peradilan sepenuhnya dikendalikan oleh akal imitasi (AI). Ceritanya, terdakwa akan berhadapan langsung dengan hakim, tanpa jaksa yang menuntut, dan pengacara sebagai pembela.
Fakta persidangan yang biasanya disajikan berlembar-lembar oleh jaksa dan penasehat hukum, kini diganti menjadi data mentah yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti cctv dan bodycam. Dalam sistem "Mercy Capital Court", keadilan diubah menjadi angka probabilitas murni.
Hakim menjatuhkan hukuman mati jika tingkat kesalahan terdakwa mencapai 92%. Film ini mempertanyakan, ketiadaan mercy atau pengampunan, karena AI bekerja secara lurus tanpa rasa belas kasihan atau pemahaman konteks emosional manusia.
Aktor Chris Pratt berperan sebagai Chris Raven, polisi yang harus duduk di kursi terdakwa, beradu akting dengan aktris Rebecca Ferguson sebagai Hakim AI bernama Maddox. Berlatar tahun 2029 di Los Angeles, kita mengikuti upaya Chris, seorang detektif yang harus berpacu dengan waktu selama 90 menit untuk membuktikan dirinya tidak bersalah atas pembunuhan istrinya.
Jika tak berhasil menyampaikan fakta soal ketidakterlibatannya membunuh istri, sistem hukuman mati secara instan mengeksekusinya. Uniknya, penonton akan mengikuti narasi dalam durasi yang hampir menyerupai waktu nyata (90 menit di film mendekati 90 menit waktu asli).
Intensitas luar biasa bakal dirasakan penonton seolah ikut merasakan detak jantung dan peluh Chris Raven, yang berpacu melawan tenggat waktu eksekusi mati. Kontras dengan dinginnya ekspresi Hakim Maddox menghadapi pertaruhan hidup-mati terdakswa.
Akting Rebecca Ferguson sebagai AI, memberikan performa yang kaku tetapi memukau, dalam suara dan perwujudan dari sistem AI. Bertemunya kontradiksi emosi mentah Chris Pratt dan logika tanpa perasaan Maddox menciptakan dinamika psikologis yang kuat.
Berbeda dengan film masa depan yang biasanya terlihat bersih dan futuristik, Mercy menampilkan Los Angeles tahun 2029 yang kusam, padat, dan penuh dengan pengawasan teknologi tinggi. Penggunaan format IMAX turut memberikan skala yang luas pada adegan kejar-kejaran di pusat kota.
Mercy juga berhasil menyentuh isu hangat tahun 2026 mengenai etika penggunaan AI. Pertanyaan tentang "apakah algoritma bisa memahami konteks kemanusiaan?" menjadi inti moral yang sangat relevan bagi khalayak saat ini.
Kita akan mendapati, speedy-trial berbiaya murah yang selama ini diidamkan sebagai pengadilan ideal, tetap membutuhkan modal besar untuk memanfaatkan berbagai data dan fakta. Tak diperlukannya peran jaksa dan pembela, bukan berarti menjadikan keadilan mudah untuk dicapai.
Sampai akhir, kita akan dibuat penasaran tentang sosok pembunuh dan motifnya, sambil menikmati pengalaman nonton yang mengesankan, mengeksplorasi AI secara visual dan imersif, dengan jalan cerita serta pesan moral yang tetap relevan dengan kehidupan sehari-hari.