FILM 28 Years Later: The Bone Temple, Makin Unik dan Relevan

FAZ • Sunday, 18 Jan 2026 - 10:51 WIB

Genre: Horor
Sutradara: Nia DaCosta
Penulis: Alex Garland
Pemeran: Ralph Fiennes, Jack O'Connell, Alfie Williams
Durasi: 1 jam 49 menit
Distributor: Sony Pictures
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 15 Januari 2026

Setelah pandemi Covid-19, kita memahami kejamnya suatu wabah setelah mengalami langsung. Merenggut orang-orang yang kita sayangi, merasakan kesakitan, menghapus kebersamaan, dan memaksa hidup dalam kesepian.

Ganasnya virus tak lagi sekadar fiksi, tetapi pernah kita rasakan bersama secara individual maupun kolektif sebagai masyarakat. Karenanya, 28 YEARS LATER: THE BONE TEMPLE terasa relevan dan mengingatkan dengan masa karantina, ketika manusia bisa terlihat sangat kejam demi bertahan hidup, sekaligus menjadi begitu rapuh secara bersamaan.

Horor sadis tentang zombie dan kegetiran menjadi penyintas nonzombie, yang ternyata sama-sama membawa rasa frustasi, 28 YEARS LATER: THE BONE TEMPLE menyampaikan makna tentang kesendirian dan isolasi, makin terasa mendalam dibanding pendahulunya 28 YEARS LATER (2025).

Kita diajak kembali mengikuti kelanjutan dari kisah epik Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), yang makin memahami virus Rage, menjalani berbagai eksperimen, membangun relasi dengan pasiennya, sekaligus pencipta kuil tulang belulang, dan monumen tengkorak para korban.

Dr. Ian mencoba menyembuhkan zombie Samson yang sebenarnya sudah parah terinfeksi namun berusaha dijinakkan. Hubungan Dr. Ian dan Samson terjalin dalam komunikasi satu arah tetapi tetap tersirat pesan-pesan kuat.

Sebagai pembuka, kita diingatkan dengan sosok Spike (Alfie Williams), bocah yang telah mengalami kedukaan mendalam, kini menghadapi gank pemuja setan pimpinan Jimmy Crystal (Jack O'Connell). Memimpin anak-anak muda penyintas, Jimmy menguasai pedesaan bak preman yang siap mengancam siapa saja.

Sebagai pemimpin sekte yang kejam, sadis, manipulatif, dan penyembah setan beserta para pengikutnya, Jimmy menganut ideologi pasca-wabah yang menyimpang. Mereka mengeksploitasi keruntuhan masyarakat untuk menyebarkan ketakutan dan mendapatkan kekuasaan, memperkenalkan jenis kejahatan baru ke dunia.

Cerita Dr. Ian-Samson berjalan dalam kesunyian dan suasana senyap, dalam upaya Dr. Ian memulihkan Samson dalam dunia tersendiri, yang terasa sangat pas ketika hits Duran Duran "Ordinary World" menggemakan pesan kehilangan sekaligus keberanian menerima keadaan, dalam kesederhanaan "dunia biasa" yang tersisa bagi kita.

Sementara Spike-Jimmy berinteraksi dalam kegaduhan, kengerian, dari kesadisan demi kesadisan, meski Jimmy digambarkan sebagai leader yang asyik, menguasai Spike yang inferior. Mereka terlihat terus-menerus hidup dalam ketakutan dalam konteks masing-masing.

Karakter yang digambarkan kontras tersebut bertemu di suatu momen ketika Jimmy yakin, Dr. Ian merupakan iblis. Salah satu adegan intens pun terjadi ketika Dr. Ian meresapi peran sebagai sosok kejam, lengkap dengan penerangan lilin dan rekaman lagu Iron Maiden "The Number of the Beast," sebuah lagu tentang seseorang yang mengalami penglihatan setan.

Saat Nia DaCosta mengambil alih kendali penyutradaraan dari Danny Boyle, ia memasukkan cerita baru ini dengan nuansa horor dan visinya sendiri yang lebih tinggi dan khas sebagai kreator untuk dunia distopia ini.

Secara keseluruhan Sutradara Nia DaCosta ingin penonton menikmati sensasi menegangkan tanpa henti, serta pengalaman horor yang lebih intens. Konsep virus Rage memberi kita kesempatan untuk berbicara tentang kemanusiaan. Film ini mengeksplorasi sifat kejahatan dan bagaimana kita mengontekstualisasikannya di dunia dengan berbagai sistem kepercayaan.

Nia menjelaskan, "Kita memiliki mereka yang terinfeksi dan mereka yang tidak terinfeksi. Siapa sebenarnya yang paling banyak menimbulkan kerusakan?” Pertanyaan tersebut terngiang kuat sampai akhir kisah. Terlebih, penonton berkesempatan mengintip singkat tentang kelanjutan 28 Years Later yang tampak sangat meyakinkan.

28 YEARS LATER: THE BONE TEMPLE hadir sama gila, unik, dan klasiknya dengan pendahulunya, memberikan pengalaman petualangan audio visual yang tersaji secara apik.