Dari Hidup di Rel Kereta hingga Bangun Usaha Daur Ulang: Kisah Bangkit Taofik Hidayat

AKM • Monday, 12 Jan 2026 - 12:59 WIB
Taofik Hidayat dan Istri Besusah Payah Bangun Usaha Daur Ulang Mandiri (Istimewa)

Jakarta — Perjalanan Taofik Hidayat membangun usaha pengelolaan sampah plastik merupakan kisah tentang ketekunan, keberanian, dan kemampuan melihat peluang di tengah keterbatasan. Berangkat dari kehidupan keras di atas rel kereta api tak terpakai di kawasan Ancol, Jakarta, Taofik kini menjelma menjadi pengusaha daur ulang plastik yang membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Tahun 2011 menjadi fase paling menentukan dalam hidupnya. Saat itu, Taofik hidup dalam kondisi serba sulit dan penuh tekanan. Ancaman dari preman menjadi bagian dari keseharian, bahkan pernah menghadapkan dirinya pada situasi yang mengancam nyawa.

“Waktu itu saya benar-benar tidak punya apa-apa. Pernah celurit sudah di leher, hanya karena saya tidak pegang uang,” kenang Taofik.

Di tengah situasi tersebut, ia justru menemukan inspirasi dari sesuatu yang kerap dipandang remeh: sampah plastik. Taofik memperhatikan bahwa sebagian warga yang hidup di kolong jembatan mampu bertahan hidup dari aktivitas mengumpulkan dan menjual sampah.

“Saya lihat mereka bisa hidup dari situ. Dari situ saya sadar, berarti sampah ini ada nilainya,” ujarnya.

Berbekal keyakinan tersebut, Taofik mulai mengumpulkan sampah plastik secara mandiri. Modal awal diperoleh dari pinjaman keluarga dan perbankan, sebuah keputusan yang diakuinya penuh risiko.

“Kalau gagal, bukan cuma usaha yang hancur, tapi keluarga juga ikut terdampak,” katanya.

Ujian datang silih berganti. Pada masa awal merintis usaha, Taofik beberapa kali mengalami kerugian akibat penipuan. Uang muka sudah disetor, namun barang tak pernah dikirim. Alih-alih mendapat solusi, ia justru menerima ancaman.

“Saya sempat jatuh banget. Uang dari bank habis, barang tidak ada,” tuturnya.

Di titik terendah itu, sang istri sempat menyarankan agar ia berhenti dan mencoba usaha lain. Namun Taofik memilih bertahan. Dengan skala kecil, ia kembali mengumpulkan, mengangkut, dan menjual sampah plastik seorang diri.

Perlahan, titik balik datang ketika ia memutuskan membeli mesin press sampah plastik dengan modal sekitar Rp50 juta. Keputusan itu membuat usahanya mulai berjalan lebih stabil. Ia juga bernegosiasi dengan pihak bank agar cicilan kredit disesuaikan dengan kemampuan.

“Yang penting tetap jalan dan dibayar, meski pelan,” ujarnya.

Kini, usaha pengelolaan sampah plastik yang dijalankan Taofik terus berkembang. Selain di Jakarta, ia membuka lokasi pengelolaan baru di Sukabumi yang telah berjalan sekitar delapan hingga sembilan bulan. Ia menegaskan, kegiatan tersebut justru membantu mengurangi timbunan sampah dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

“Awalnya memang bisnis, tapi saya juga ingin warga sekitar punya penghasilan,” katanya.

Sebagian besar pekerja di tempat usahanya merupakan masyarakat lokal. Dukungan dari lingkungan pun mengalir, mulai dari RT, RW, hingga warga yang merasakan dampak langsung dari keberadaan usaha tersebut.

Belajar dari pengalaman pahit, Taofik kini menerapkan sistem kerja yang lebih disiplin dan transparan. Setiap sampah plastik disortir ketat, dicatat atas nama pemasok, dan diawasi melalui kamera pengawas.

“Sering dulu dapat barang campuran batu, kayu, bahkan air supaya berat. Sekarang kalau tidak sesuai, langsung kita kembalikan,” tegasnya.

Ia juga memilih membangun hubungan jangka panjang dengan para pengepul melalui pendekatan kekeluargaan.

“Kalau sudah nyaman, biasanya kerja sama bisa lama,” ujarnya.

Di balik perjalanan panjang itu, peran keluarga—terutama sang istri, Asih—menjadi penopang utama. Asih mengaku tertarik pada Taofik bukan karena materi, melainkan ketekunan dan kejujurannya.

“Yang saya lihat itu orangnya pekerja keras, ulet, dan jujur. Modal dasarnya sudah ada,” kata Asih.

Menurutnya, keberanian memulai usaha dari nol tidak dimiliki semua orang. Ia pun meyakini bahwa usaha pengelolaan sampah plastik memiliki potensi besar untuk berkembang dan memberi manfaat luas.

Saat masa-masa sulit datang, Asih mengaku hanya bisa memberikan kepercayaan dan doa. Ia percaya bahwa usaha yang dijalani dengan niat baik akan menemukan jalannya.

“Yang penting kita masih yakin dan mau bangkit,” ujarnya.

Kini, usaha Recycle Journey Plastic yang dirintis Taofik terus tumbuh dan mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Dari rel kereta yang sunyi hingga roda usaha yang terus berputar, perjalanan Taofik menjadi bukti bahwa perubahan besar kerap berawal dari keberanian melihat peluang di tempat yang tak terpikirkan.