FILM Greenland 2: Migration, Akhir Dunia yang Hanyalah Suatu Permulaan

FAZ • Friday, 9 Jan 2026 - 11:09 WIB

Genre: Disaster thriller
Sutradara: Ric Roman Waugh
Pemeran: Gerard Butler, Morena Baccarin, Roman Griffin Davis
Durasi: 1,5 jam
Distributor: Prima Cinema Multimedia
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 7 Januari 2026

Greenland dalam bahaya, keselamatan penduduknya terancam sehingga perlu segera bermigrasi. Bukan Greenland, negara konstituen Kerajaan Denmark di antara Samudra Arktik dan Atlantik, yang kabarnya ingin dibeli Presiden AS Donald Trump.

Melainkan di layar lebar, "Greenland 2: Migration". Sequel dari "Greenland" tahun 2029 ini masih mengikuti perjalanan keluarga Garrity, yang terdiri dari ayah John (Gerard Butler), seorang insinyur struktural, ibu Allison (Morena Baccarin) yang menjadi pejabat pemerintahan, bersama Nathan (Roman Griffin Davis), putra tunggal pasien diabetes, dan kini sudah beranjak remaja.

Sekitar 5 tahun setelah komet Clarke jatuh di Perancis Selatan, dunia kini hampir kiamat. Sebagian besar makhluk hidup musnah. Kota-kota bahkan negara hilang. Bangunan ikonik hancur termasuk Menara Eiffel dan Gedung Sydney Opera. Daratan berubah menjadi perairan karena tsunami atau banjir tak berkesudahan. Begitu juga sebaliknya, perairan juga bisa menjadi daratan.

Sejumlah orang beruntung berhasil mengungsi di bunker Greenland selama era new normal ini. Keluarga Garrity pun hidup terisolasi di sana, menghabiskan waktu dalam situasi semacam karantina, sambil berharap suatu hari bisa keluar menikmati udara bebas.

Di Greenland, penghuninya bisa bekerja, bersekolah, berolahraga, beraktivitas seolah seperti normal. Namun dengan panjangnya masa pengungsian dan makin banyaknya jumlah orang di dalamnya, ditambah bencana bertubi-tubi tak henti terjadi, keamanan bunker pun terancam.

Keluarga Garrity juga menghadapi tekanan psikologis yang berat. Sesederhana Nathan tak bisa melihat bintang-bintang di langit, sesuai yang dipelajarinya di kelas saja; situasi tersebut cukup memberi masalah tersendiri. Ironisnya, aktivitas bintang-bintang indah tersebut sesungguhnya menjadi salah satu penyebab situasi mematikan di Bumi.

Apalagi, badai radiasi ditambah tsunami sekaligus luapan lava dari perut bumi, menjadi fenomena biasa di sekitar Greenland. Namun kemampuan teknis bunker ternyata sulit diandalkan untuk bertahan lebih lama. Para penduduk pun terpaksa bermigrasi mencari hunian baru.

Dari sanalah konflik meningkat. John, Allison, dan Nathan perlu bekerja sama seperti di Greenland pertama, agar berhasil mencapai tujuan mereka. Penonton diajak menikmati adegan-adegan seru dan menegangkan tentang upaya bertahan hidup.

Relasi keluarga Garrity yang hangat pun kembali diuji, seiring bapak-ibu-anak tersebut memiliki pergumulan masing-masing. Terlebih, dunia di luar Greenland sungguh berbeda. Manusia tersisa menjelma menjadi pemberontak yang kejam.

Ujian bencana alam juga masih jauh dari fase reda. Hampir seluruh jenis bencana alam digambarkan sangat intens datang, mula dari hujan komet susulan, gempa bumi, angin kencang, cuaca ekstrem, sampai badai petir.

Dengan keseruan jalan cerita bersama tokoh yang mayoritas sama dengan Greenland pertama, penonton akan merasa dekat dengan karakter Gerard Butler dan Morena Baccarin, yang masih diarahkan sutradara Ric Roman Waugh.

Berbeda dengan film pertama yang berfokus pada perlombaan melawan waktu untuk mencapai bunker, sekuel ini bergeser ke eksplorasi kehidupan setelah kiamat yang lebih suram dan berfokus pada karakter, serta dampak emosional dari memulai hidup baru.

Dalam skala lebih masif, jenis bencana dan tragedi pun digambarkan sangat mengerikan dan mematikan. Efek audio visualnya mampu meyakinkan penonton untuk ikut deg-deg-an dengan John dan anak istrinya, yang berkali-kali mengalami kendala dalam perjalanan.