
Jakarta — Kementerian Kebudayaan mencatat jumlah penonton film Indonesia mencapai 80,27 juta orang, sebuah capaian yang dinilai menegaskan kebangkitan dan kemandirian perfilman nasional. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut angka tersebut sebagai bukti bahwa film Indonesia kini telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
“Jumlahnya relatif stabil dibanding tahun lalu, meskipun sedikit di bawah. Ini menunjukkan penonton film Indonesia tetap kuat dan konsisten. Paling tidak, ini menandakan film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Fadli Zon dalam taklimat media *Refleksi 2025, Kebijakan 2026* di Jakarta, Kamis (8/1).
Menurutnya, stabilitas jumlah penonton merupakan indikator penting bagi kesehatan industri film nasional, khususnya di tengah persaingan dengan film impor dan perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat.
Selain capaian di dalam negeri, perfilman Indonesia juga mencatatkan prestasi di kancah internasional. Sejumlah film nasional berhasil menembus festival film bergengsi dunia, memperkuat eksistensi Indonesia dalam peta perfilman global.
Salah satu film yang mendapat sorotan adalah Pangku, yang tampil di ajang Busan International Film Festival. Sementara itu, film animasi Indonesia Jumbo mencetak sejarah sebagai film animasi nasional dengan jumlah penonton tertinggi sepanjang masa, sekaligus menjadi film terlaris di dalam negeri pada tahun lalu.
“Film Indonesia sekarang ini selalu hadir dalam berbagai festival film internasional. Ini menunjukkan kualitas dan daya saing sineas kita semakin diakui,” kata Fadli.
Kementerian Kebudayaan, lanjut Fadli, terus memperkuat ekosistem perfilman nasional melalui berbagai bentuk dukungan. Upaya tersebut mencakup fasilitasi penyelenggaraan festival film, penguatan pasar film, hingga pengembangan dan manajemen talenta perfilman.
Pemerintah juga memberikan dukungan kepada sineas serta pelaku seni tradisi yang terlibat dalam festival film internasional, baik dalam bentuk fasilitasi promosi, penguatan jejaring, maupun dukungan teknis lainnya.
“Dukungan ini bertujuan memperluas jaringan internasional, mempromosikan karya anak bangsa, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri perfilman dunia,” ujarnya.
Tingginya minat masyarakat menonton film di bioskop dinilai Fadli sebagai modal penting bagi ekonomi budaya nasional. Menurutnya, keberlanjutan minat penonton menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan industri film, dari hulu hingga hilir.
“Ekosistem perfilman tidak hanya soal produksi film, tetapi juga mencakup lapangan kerja, distribusi, hingga dampak ekonomi kreatif yang lebih luas,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fadli Zon menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memastikan akses kebudayaan yang inklusif bagi seluruh warga negara. Prinsip *no one left behind* menjadi acuan dalam kebijakan kebudayaan, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai aktor utama masa depan kebudayaan Indonesia, termasuk dalam pengembangan perfilman nasional.
“Generasi muda adalah penggerak utama inovasi dan kreativitas. Mereka harus mendapat ruang, akses, dan dukungan agar kebudayaan Indonesia, termasuk film, terus berkembang dan relevan,” pungkasnya.