Menag Ajak Perayaan Natal Jadi Ruang Empati dan Penguat Persatuan Bangsa

AKM • Tuesday, 30 Dec 2025 - 08:04 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar Berikan Sambutan Perayaan Natal “Festival Kasih Nusantara 2025’ (Istimewa)

Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan perayaan Natal dan Tahun Baru sebagai ruang empati dan penguatan persatuan nasional, khususnya bagi masyarakat yang tengah menghadapi bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Menag dalam  Festival Kasih Nusantara 2025 sekaligus perayaan Natal bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) Kristen dan Katolik Kementerian Agama yang digelar di  Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta,  Senin (29/12).

Menurut Nasaruddin, suasana Natal tahun ini tidak sepenuhnya diliputi kemeriahan. Di tengah sukacita, terdapat keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun justru dari situ, nilai solidaritas dan kebersamaan sebagai satu bangsa semakin menemukan maknanya.

“Perayaan ini menjadi pesan moral bahwa saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah tidak pernah sendiri. Seluruh bangsa ikut merasakan, mendoakan, dan berdiri bersama mereka,” ujar Menag.

Ia menjelaskan, di berbagai daerah, perayaan Natal selalu diiringi doa bagi para korban bencana. Bahkan di wilayah timur Indonesia seperti Sorong, Papua, doa dan kepedulian juga dipanjatkan untuk masyarakat yang berada jauh di wilayah barat Nusantara.

“Di mana pun Natal dirayakan, selalu ada doa yang sama. Ini adalah wujud kebersamaan yang melampaui batas geografis,” katanya.

Menag menilai, selain doa, berbagai kegiatan yang menampilkan kebersamaan lintas daerah dan lintas iman menjadi simbol nyata kuatnya ikatan kebangsaan. Hal tersebut sekaligus menegaskan identitas Indonesia sebagai negara yang dibangun di atas keberagaman.

Milikk Nilai Historis 

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga menyebut perayaan Natal bersama ASN Kementerian Agama kali ini memiliki nilai historis. Untuk pertama kalinya, perayaan Natal digelar secara bersama oleh berbagai denominasi Kristen dan Katolik dalam satu ruang kebersamaan.

“Kita memilih kesederhanaan tanpa mengurangi makna. Yang terpenting adalah pesan kemanusiaan dan persaudaraan yang kita sampaikan,” ujarnya.

Lebih jauh, Menag mengingatkan bahwa Indonesia adalah anugerah Tuhan yang indah dengan konfigurasi kebinekaan yang unik. Oleh karena itu, menjaga persatuan dan keharmonisan bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh anak bangsa.

Ia juga mengulas makna spiritual Natal sebagai peringatan kelahiran sosok teladan yang mengajarkan nilai-nilai kasih, pengorbanan, dan kemanusiaan. Menurutnya, nilai tersebut harus tercermin dalam sikap dan tindakan sehari-hari.

“Seperti lilin yang menyala, ia rela mengorbankan dirinya untuk memberi terang bagi orang lain. Itulah pesan universal Natal yang relevan bagi siapa pun,” tuturnya.

Menag kemudian mengaitkan simbol cahaya tersebut dengan ajaran lintas agama, termasuk dalam Islam yang mengenal konsep cahaya sebagai petunjuk dan kebaikan bagi manusia. Nilai tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa setiap insan dipanggil untuk menghadirkan terang, harapan, dan kepedulian di tengah masyarakat.