
JAKARTA — Sekolah Rakyat Menengah Atas (SMRA) 9 Jakarta Timur terus berupaya mengembangkan potensi peserta didik tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga minat dan bakat nonakademik. Hal ini disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Kukuh Aji Widiatmoko, saat ditemui di lingkungan sekolah.
Kukuh menjelaskan, pengelolaan kesiswaan di SMRA 9 dilakukan secara terintegrasi melalui sistem pendataan berbasis digital. Seluruh data siswa, mulai dari profil hingga perubahan status siswa, tercatat dalam satu sistem khusus Sekolah Rakyat.
“Pendataan siswa sudah tersistem dalam satu web Sekolah Rakyat. Jika ada siswa yang mundur atau berganti, semuanya tercatat otomatis,” ujar Kukuh.
Perekrutan peserta didik, lanjutnya, dilakukan secara terstruktur berdasarkan data terpadu kesejahteraan sosial, khususnya dari kelompok desil 1 dan desil 2. Dengan sistem ini, sekolah memastikan tepat sasaran dalam memberikan akses pendidikan.
Saat ini, jumlah siswa SMRA 9 Jakarta Timur mencapai 49 orang dari kuota 50 siswa, terdiri dari 29 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.

Dalam pengembangan minat dan bakat, SMRA 9 menyediakan beragam kegiatan ekstrakurikuler yang dibangun secara internal oleh para guru sesuai bidang keahlian masing-masing. Beberapa kegiatan tersebut antara lain OSIS, Pramuka, teater, bulu tangkis, futsal, seni musik, vokal grup, dan band.
“Untuk pembina, kami dari guru-guru di sekolah. Sedangkan pelatihnya berasal dari pihak eksternal,” jelas Kukuh.
Selain kegiatan internal, SMRA 9 juga memfasilitasi siswa yang memiliki minat khusus pada cabang olahraga yang belum tersedia di sekolah, seperti Teqball, tinju (boxing), dan rugby. Untuk itu, sekolah menjalin kerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
“Kami kirim siswa ke UNJ untuk latihan. Teqball ada sekitar empat siswa, boxing dua siswa, dan rugby tiga sampai empat siswa. Kami bekerja sama dengan mahasiswa dan alumni UNJ,” katanya.
Para siswa yang mengikuti latihan di luar sekolah tetap mendapat pendampingan dari pihak kesiswaan. Mereka diantar dan ditemani pembina sesuai jadwal yang telah ditentukan, umumnya setelah kegiatan akademik selesai.
Latihan ekstrakurikuler luar sekolah biasanya dilakukan satu hingga dua kali dalam sepekan, menyesuaikan dengan cabang olahraga masing-masing.
Kukuh berharap, melalui berbagai program ini, siswa SMRA 9 dapat berkembang secara menyeluruh dan memiliki peluang berprestasi di masa depan.
“Harapannya siswa bisa mengembangkan bakatnya, belajar ilmu baru, bahkan kalau bisa menjadi atlet atau berprestasi di bidang yang mereka tekuni,” ujarnya.
Ia menegaskan, seluruh fasilitas dan layanan di Sekolah Rakyat diberikan secara gratis, mulai dari pendidikan, tempat tinggal, konsumsi, hingga perlengkapan sekolah.
“Alhamdulillah semuanya gratis, mulai dari asrama, makan, seragam, tas, sepatu, buku, dan kebutuhan lainnya,” pungkas Kukuh.