Siswa SRMA 10 Margaguna Jalani Pembatasan Handphone, Akui Lebih Fokus Belajar

ANP • Wednesday, 10 Dec 2025 - 15:46 WIB
Shaskia Rihanna Putri Shafira Rihanna Putri Shafana Rihanna Putri, Siswi Kembar 3 SMRA 10 Margaguna Jakarta

Jakarta — Kebijakan pembatasan penggunaan handphone (HP) yang diterapkan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Margaguna, Jakarta Selatan, mendapat respons positif dari para siswanya. Aturan yang mewajibkan siswa menitipkan handphone kepada wali asuh selama hari sekolah dinilai membuat aktivitas belajar menjadi lebih fokus dan terarah.

3 Putri kembar, Shaskia Rihanna Putri, Shafira Rihanna Putri dan Shafana Rihanna Putri, kini duduk dikelas 10, menceritakan bahwa saat masuk ke sekolah tersebut lima bulan lalu, ia harus mengikuti rangkaian seleksi mulai dari tes kesehatan hingga wawancara sebelum dinyatakan diterima. Setelah menjadi bagian dari SRMA, ia mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku, termasuk pembatasan penggunaan handphone.

“Kepala sekolah sama menteri sudah menyampaikan aturan bahwa HP dibatasi. Jadi HP kami dititipkan ke wali asuh,” ujarnya di Jakarta, Selasa (9/12/2025).



Menurut 3 siswi kembar kelahiran 25 Februari 2010 itu , selama hari sekolah, Senin hingga Jumat, para siswa hanya diperbolehkan menggunakan handphone pada malam hari setelah magrib hingga pukul 20.30. Itu pun hanya untuk keperluan belajar atau menghubungi orang tua.

“Kalau hari sekolah, HP dikasih habis magrib sampai setengah sembilan. Itupun dipakai buat belajar tambahan, cari catatan, atau nelpon orang tua,” kata Shaskia.

Sementara pada akhir pekan, siswa diberi akses lebih longgar. Pada Sabtu dan Minggu, mereka boleh memegang handphone mulai setelah salat subuh hingga pukul 08.30.

Pembatasan ini justru dianggap memberi dampak positif bagi para siswa. Shaskia mengaku lebih mudah mengatur waktu dan fokus menjalani aktivitas sekolah, mulai dari olahraga pagi, pembelajaran reguler, hingga kegiatan ekstrakurikuler seperti silat, futsal, dan pramuka.

“Sekarang gak banyak pakai HP, jadi lebih banyak aktivitas. Belajarnya juga lebih efektif karena dipakai seperlunya,” ujarnya.

Menurutnya, para guru memberikan materi dan tugas melalui perangkat digital, namun siswa diarahkan mengaksesnya lewat laptop sekolah, bukan lewat handphone.

Saat ditanya apakah pembatasan ini membuatnya kesulitan mengikuti tren media sosial atau bermain game seperti kebanyakan remaja lain, Shaskia mengaku sudah terbiasa.

“Gak terlalu ngaruh. Saya jarang main game. Paling lihat berita atau baca buku online,” jelasnya.

Selama tinggal di lingkungan sekolah, Shaskia juga merasakan perubahan kebiasaan yang lebih sehat dan teratur. Mulai dari bangun pukul 04.00 subuh, olahraga pagi, makan tiga kali sehari yang sebelumnya tidak selalu ia lakukan di rumah, hingga mengikuti kegiatan pembinaan karakter.

“Di sini fasilitasnya cukup, makan juga terjamin. Kalau dulu makan kadang sekali atau dua kali, sekarang jadi tiga kali,” ungkapnya.

Shaskia menilai pembatasan handphone bukanlah larangan, melainkan pengaturan yang membantu siswa lebih disiplin.

“Senang sih. Jadi gak kecanduan HP. Bisa fokus sekolah,” katanya.

Ia berharap aturan ini tetap diterapkan karena menurutnya sangat membantu membangun kebiasaan belajar dan hidup yang lebih baik bagi para siswa.

Sebelumnya, penggunaan gadget pada anak menjadi perhatian beberapa negara di dunia. Bukan hanya berpotensi pada kesehatan mental anak, kecanduan gadget juga bisa mempengaruhi kesehatan fisik anak.

Salah satu negara yang baru menerapkan pembatasan penggunaan gadget pada anak adalah Australia. Negara tersebut telah mengesahkan larangan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun.