Banjir Sumatera, Pakar: Waspadai Potensi Munculnya 4 Penyakit Menular 

MUS • Saturday, 29 Nov 2025 - 11:16 WIB

Jakarta - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sebagian wilayah Pulau Sumatera mendapat sorotan dari pakar kesehatan masyarakat, Prof. Tjandra Yoga Aditama. Ia mengingatkan pentingnya upaya kesehatan yang cepat dan terencana untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap masyarakat terdampak.

“Kita tentu amat berduka tentang bencana yang melanda saudara-saudara kita di sebagian Pulau Sumatera,” ujar Prof. Tjandra, yang juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.

Ia kemudian merinci enam langkah kesehatan yang perlu dilakukan saat terjadi bencana, termasuk pada situasi yang terjadi saat ini.

“Langkah pertama adalah rapid needs assessments, yaitu penilaian cepat tentang apa yang dibutuhkan segera,” jelasnya. Langkah berikutnya, kata dia, mengevaluasi sumber daya yang tersedia dan membandingkannya dengan kebutuhan.

“Pengaturan pelayanan kesehatan — dari primer, sekunder, hingga tersier — di sekitar daerah bencana sebaiknya jadi prioritas utama,” tambahnya.

Prof. Tjandra melanjutkan bahwa langkah ketiga adalah melakukan upaya pencegahan dampak kesehatan lanjutan melalui kegiatan promotif dan preventif di lapangan. Setelah itu, perlu segera menerapkan strategi pengendalian penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular.

“Evaluasi terhadap efektivitas strategi yang dilakukan harus selalu dilakukan,” ujarnya. Adapun langkah terakhir adalah perbaikan perencanaan kontinjensi untuk menghadapi kemungkinan bencana serupa di masa depan.

Terkait risiko kesehatan di lokasi bencana, Prof. Tjandra mengingatkan adanya empat kelompok penyakit menular yang harus diwaspadai.

“Setidaknya ada empat jenis penyakit yang berpotensi merebak, yaitu penyakit yang ditularkan melalui air, penyakit akibat makanan, penyakit paru dan pernapasan, serta penyakit yang menular melalui kontak langsung antar manusia,” tutur penerima penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025 ini. 

Selain penyakit menular, ia juga mengingatkan risiko memburuknya penyakit tidak menular (PTM) pada penyintas. 

“Makan yang tidak teratur karena situasi bencana dapat mengganggu metabolisme tubuh, misalnya memperburuk diabetes mellitus. Penyakit paru kronik juga dapat memburuk, seperti eksaserbasi akut PPOK,” jelasnya.