
Jakarta — Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie bersama Satkaara Academy menggelar PR Talkshow dan peluncuran buku “Untold Stories: Strategi Public Relations di Industri Kreatif” pada Kamis (27/11). Acara ini menarik hampir 250 peserta dari berbagai lembaga komunikasi seperti KPI, ISKI, APPRI, Perhumas, hingga ASPIKOM.
Penulis buku sekaligus praktisi PR senior, Nugroho Agung Prasetyo, menekankan bahwa dunia PR, terutama di industri kreatif, penuh detail yang jarang terlihat publik. "PR bukan hanya soal menulis rilis atau membuat event. Ini soal membaca isu, memahami emosi publik, dan menjaga kredibilitas organisasi saat sorotan datang,” ujarnya.
Buku Untold Stories: Strategi Public Relations di Industri Kreatif merangkum pengalaman Nugroho selama lebih dari 15 tahun menangani kontroversi, opini publik, hingga dinamika hubungan media.
Talkshow yang dipandu jurnalis digital Bayu Sutiyono (Siber.id) mengangkat sisi moralitas dan tantangan etis profesi PR. Diskusi berjalan terbuka mengenai bagaimana praktisi menghadapi isu berlapis regulasi dan tekanan reputasi yang harus diselesaikan dalam waktu singkat.

Ketua ISKI Pusat, Prof. Atwar Bajari, menyambut baik terbitnya buku ini, “Buku ini membuka ‘dapur’ kerja PR secara jujur. Generasi muda butuh melihat bahwa PR bukan hanya mengelola citra, tapi mengelola kepercayaan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa literasi komunikasi strategis menjadi semakin penting di era digital yang menuntut kecepatan dan transparansi tinggi.
Bagi mahasiswa, acara ini memberi gambaran nyata tentang dunia kerja PR yang menuntut ketahanan mental dan kreativitas. Sementara bagi kalangan profesional, diskusi ini menjadi ruang refleksi tentang pentingnya etika dan data kredibel dalam membangun komunikasi publik yang bertanggung jawab.
Seperti disampaikan Nugroho Agung dalam sesi diskusi, “Di tengah banjir informasi, integritas adalah fondasi. PR harus memastikan pesan yang keluar selalu jujur, tepat, dan berbasis data.”
Peluncuran Untold Stories menjadi momentum kolaborasi kampus–industri sekaligus pengingat bahwa PR bukan sekadar membangun citra, tetapi merawat kepercayaan sekaligus modal reputasi paling berharga untuk keberlanjutan organisasi. (AYN)