Pemborosan Anggaran Jelang Akhir Tahun, Menkeu Purbaya Didesak Lakukan Penertiban

AKM • Thursday, 27 Nov 2025 - 14:05 WIB
Ilustrais Uang APBN

Jakarta  — Praktisi hukum dan politisi, Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M., menyoroti kembali fenomena pemborosan anggaran yang kerap terjadi pada akhir tahun di berbagai institusi pemerintahan. Didi menilai tradisi “kejar tayang serapan anggaran” telah berubah menjadi budaya yang merugikan negara dan melemahkan kualitas belanja publik.

“Menjelang  tutup tahun, sejumlah instansi pemerintah sering berlomba menghabiskan anggaran melalui proyek-proyek mendadak yang minim urgensi,” ujar Didi dalam pernyataan tertulisnya, Jakarta, Kamis (27/11).

Ia mencontohkan kegiatan seperti pembongkaran jalan yang masih layak, revitalisasi drainase yang tidak diperlukan, hingga rapat yang dipindahkan ke hotel berbintang demi meningkatkan belanja modal maupun operasional.

“Semua demi satu tujuan suci: menyelamatkan angka serapan anggaran. Indikator  kinerja birokrasi masih salah kaprah karena lebih menekankan kecepatan menghabiskan anggaran ketimbang kualitas dan dampak program,” tegasnya.

Didi menjelaskan bahwa pola pikir yang berkembang selama ini seolah-olah anggaran negara adalah “barang yang akan basi” sehingga harus dibelanjakan secepat mungkin sebelum ditarik kembali ke pusat. Pola pikir ini, menurutnya, melahirkan proyek kilat, belanja panik, dan kegiatan seremonial tanpa manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ironinya, negara tahu penyakit ini, tapi pencegahannya masih setengah hati,” ungkapnya.

Ia menilai pengawasan anggaran sering dilakukan terlambat dan evaluasi tidak menyentuh pihak yang bertanggung jawab langsung. Akibatnya, anggaran yang seharusnya untuk pelayanan publik justru tergerus oleh pengeluaran yang tidak mendesak.

Desak Menkeu Purbaya Lakukan Penertiban

Didi mendesak Menteri Keuangan, Purbaya, untuk mengambil langkah tegas dalam menertibkan pola belanja akhir tahun yang dinilainya tidak efisien dan membuka ruang penyimpangan.

“Sudah saatnya pemerintah tegas: tarik anggaran yang tak relevan, potong belanja yang tak punya urgensi, dan hentikan budaya menghabiskan uang agar terlihat bekerja,” tegasnya.

Menurutnya, negara tidak miskin, namun sering kali menjadi korban budaya pemborosan internal yang terjadi secara rutin setiap akhir tahun anggaran.

Didi mengingatkan bahwa apabila tradisi ini terus dibiarkan, akhir tahun bukan lagi menjadi momentum evaluasi dan peningkatan kualitas belanja negara, tetapi justru berubah menjadi “festival resmi pemborosan anggaran”.

“Tentu kita tidak tega uang rakyat dihambur-hamburkan,” tutupnya.