
JAKARTA - Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Kristen Indonesia (UKI) kembali menunjukkan kepeduliannya dalam pengelolaan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Kali ini, kegiatan PKM difokuskan di Bank Sampah Nusa Indah Bersemi, Jl. Jl. Cipinang Muara 3 RT 11 RW 04 Klender, Pd. Bambu 1, Kec. Duren
Sawit, Kota Jakarta Timur, dengan mengangkat tema Pengembangan Usaha Bank Sampah Nusa Indah Bersemi Dengan Pemanfaatan Limbah Plastik Sebagai Bahan Campuran Pembuatan Paving Block.
Kegiatan PKM ini dapat terlaksana berkat hibah Bima Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Melalui dukungan ini, tim berhasil menciptakan mesin pencacah plastik hasil modifikasi mandiri dari kolaborasi Dosen dan Mahasiswa Teknik Mesin serta Teknik Sipil UKI. Mesin Pencacah Plastik yang di buat mampu menghasilkan cacahan plastik berukuran 0.3mm – 0,5 cm, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengganti pasir dalam pembuatan paving block.
Program ini dipimpin oleh Medyawanti Pane, S.T., M.Sc. dari Program Studi Teknik Mesin sebagai ketua tim. Ia dibantu oleh dosen lintas program studi, yaitu Sudarno P. Tampubolon, S.T., M.Sc. dari Teknik Sipil dan Ir. Sesmaro Max Yuda, M.T. dari Teknik Mesin. Tidak hanya melibatkan dosen, kegiatan ini juga mengikutsertakan mahasiswa, diantaranya Gresia Enjelina Siahaan dan Togu Tri Saputra Lumban Gaol dari Program Studi Teknik Sipil, serta Luice Raymon Nainggolan dan Melky Hendrik Kelo dari Program Studi Teknik Mesin.
Menurut Medyawanti Pane, S.T., M.Sc, sebagai ketua Tim, ide kegiatan ini lahir saat mengunjungi Bank Sampah Nusa Indah Bersemi. Di lokasi tersebut masih banyak botol plastik yang hanya ditumpuk dan dijual dengan harga murah sekitar Rp5.000 per kilogram dalam keadaan telah dibersihkan, apabila tidak dibersihkan hanya dengan harga Rp 1.500 per kilogram. “Kami melihat hal ini sebagai peluang besar. Jika plastik tidak hanya dijual mentah, tetapi di daur ulang (Recycle) menjadi bahan material bangunan, yang memiliki nilai jauh lebih tinggi. Selain itu, hal ini juga diharapkan mampu menekan penumpukan sampah plastik yang berpotensi membludak,” jelasnya.

Hasil analisis Tim PkM menunjukkan bahwa paving block yang dikembangkan tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memiliki kualitas dan mutu yang cukup baik, yang diperkirakan berada pada bata beton mutu C dengan nilai f’c (12,5–20 MPa), dengan harga Rp 2.200 – Rp 5.000, tergantung mutu paving yang akan di gunakan, sehingga produk ini nantinya dapat diaplikasikan di berbagai tempat, mulai dari area parkir, taman, hingga jalan lingkungan. Selain itu pada uji perendaman, peningkatan daya serap air pada paving berbahan plastik relatif tidak signifikan, berbeda dengan paving normal yang lebih porus sehingga sangat baik untuk digunakan.
Kegiatan yang terdiri dari sosialisasi, pelatihan penggunaan mesin pencacah plastik, dan praktik pembuatan paving block berbentuk bata (brick model) dan paving block segi enam (hexagon) sangat disambut antusias oleh warga setempat. Pak Agus, sebagai perwakilan dari pengurus bank sampah Nusa Indah Bersemi, sangat mengapresiasi program ini. Ia menuturkan bahwa masyarakat khususnya para pengurus bank sampah sangat antusias karena sampah plastik di RW 04 cukup banyak dimana sampah yang dihasilkan dapat mencapai 1,4 Ton per bulan dengan sampah plastik 400 kg perbulan dengan jumlah warga 2000 kk, sehingga dengan adanya mesin pencacah sampah plastik menjadi campuran pembuatan paving block dapat dimanfaatkan untuk mengolah limbah plastik serta masyarakat mendapatkan pengetahuan baru dalam pemanfaatan sampah plastik. “Selama ini plastik hanya dijual seadanya. Dengan sosialisasi dan pelatihan ini, warga jadi tahu bahwa plastik bisa diolah kembali menjadi produk yang punya nilai ekonomi. Harapan kami, dengan mendapatkan bimbingan dari akademisi pemanfaatan/ penggunaan sampah plastik lebih efisien sehingga sampah plastik dapat berkurang, mampu meningkatkan wirausaha di Bank Sampah dengan sosialisasi dan pelatihan yang dilakukan, serta kedepannya Bank Sampah Nusa Indah Bersemi bisa menerapkan konsep 3R: Reduce, Reuse, dan Recycle,” dengan berkolaborasi dengan pihak Akademisi, ujarnya.
Sudarno sebagai anggota tim menambahkan, melalui program ini masyarakat tidak hanya diajak peduli terhadap lingkungan, tetapi juga diarahkan pada peningkatan kemandirian ekonomi. “Dengan pelatihan dan sosialisasi pada pengembangan usaha ini, kami berharap masyarakat bisa melihat peluang dari sesuatu yang tadinya dianggap sampah, menjadi bahan bernilai jual. Selain itu, dengan kegiatan PkM ini harapan kami nantinya mampu membuka Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang baru di Bank Sampah Nusa Indah Bersemi,” pungkasnya.
Meski melalui perjalanan panjang mulai dari seleksi hibah hingga proses perancangan mesin pencacah, tim PKM UKI berhasil menyelesaikan kegiatan ini dengan baik. Program ini diharapkan menjadi titik awal bagi Bank Sampah Nusa Indah Bersemi untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis daur ulang sampah plastik.