
Abu Dhabi – Pemerintah Indonesia menegaskan, iklim investasi migas kini jauh lebih menarik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan Muhammad Iksan Kiat, Tenaga Ahli Bidang Pengelolaan Manajemen Risiko Industri Minyak dan Gas Bumi, di sela gelaran ADIPEC 2025 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Dalam wawancara melalui Zoom Meeting pada Selasa (4/10), Iksan mengatakan pemerintah telah membuat banyak kemajuan dalam memperbaiki daya tarik investasi (investment attractiveness) sektor hulu migas.
“Indonesia sekarang sudah berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Kami buat banyak progres, khususnya yang berkaitan dengan investment attractiveness,” ujar Iksan.
Tiga Pilar Daya Tarik Investasi
Iksan menjelaskan, setidaknya ada tiga faktor utama yang kini membuat Indonesia semakin diminati investor. Yang pertama adalah skema investasi. Pemerintah, katanya, telah memperbaiki regulasi bagi investor, termasuk dalam hal pembagian hasil (split) yang kini dinilai lebih menarik.
“Tahun 2024 ada 24 investor yang masuk, dan tahun 2025 ini sudah lebih dari 30 investor dari 12 negara,” ungkapnya.
Kedua adalah penyederhanaan birokrasi atau ease of doing business. Pemerintah tengah berupaya memangkas hambatan administratif dengan melibatkan lintas kementerian melalui berbagai satuan tugas, termasuk Satgas Lifting Migas dan Pokja Perizinan.
Ketiga, pemerintah memperbaiki pengelolaan data migas. Jika sebelumnya banyak data eksplorasi berasal dari pendanaan asing, kini Indonesia mulai menggunakan dana sendiri untuk memperkaya data eksplorasi nasional.
“Kita ingin ketika menawarkan paket investasi, datanya sudah lebih luas dan lebih bisa dipercaya. Ini akan meningkatkan kepercayaan investor dan menghindari pasar gelap data,” jelas Iksan.
Lebih lanjut, Iksan menyebut telah diterbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 yang membuka peluang bagi investor asing maupun dalam negeri untuk bermitra (joint operation) dengan Pertamina atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lain. Melalui regulasi ini, investor dapat membawa teknologi yang sudah terbukti berhasil di luar negeri ke proyek-proyek migas di Indonesia.
“Sudah saatnya Indonesia mulai mengaktifkan inovasi dan teknologi yang terbukti sukses di luar negeri lima belas tahun lalu,” kata Iksan.
Tawarkan 9 Blok Migas di ADIPEC 2025
Pemerintah kini menyiapkan penawaran sembilan blok migas baru yang akan dilelang dalam waktu dekat. Sebagian proyek dilakukan dengan skema direct assignment tanpa tender, di mana beberapa peminat dapat melakukan joint study selama enam bulan sebelum memutuskan untuk lanjut investasi.
“Skema seperti ini sudah berhasil di beberapa wilayah kerja, misalnya Binaya yang dikerjakan Pertamina, Petronas, dan SK E&P. Total juga kembali ke Indonesia lewat kerja sama di Bobara,” terang Iksan.
Selain memperluas investasi, pemerintah juga mendorong proyek energi rendah karbon seperti Carbon Capture and Storage (CCS) serta pemanfaatan panel surya untuk pasokan listrik di sumur-sumur migas kecil. Beberapa proyek CCS bahkan sudah dijalankan bersama BP dan Korea.
“Kita ingin memastikan suplai energi nasional tetap terjaga sambil transisi ke sumber energi yang lebih bersih,” ujarnya.
Menurut Iksan, partisipasi Indonesia di forum internasional seperti ADIPEC menjadi bukti bahwa pemerintah kini lebih proaktif mengundang investor global. “Kalau dulu kita cenderung pasif, sekarang kita aktif menghadiri berbagai forum dunia untuk memperkenalkan potensi migas Indonesia,” katanya.
Pemerintah, lanjutnya, yakin cadangan minyak Indonesia masih sangat besar. Tantangannya kini adalah bagaimana menarik investasi, teknologi, dan kekuatan finansial dunia untuk mempercepat realisasi produksi. “Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah berubah. Pemerintah sangat mendukung masuknya investasi ke hulu migas,” tutup Iksan.