Indonesia–Inggris Teken MoU Perkuat Diplomasi Hijau dan Transisi Ekonomi Rendah Karbon

FAZ • Sunday, 9 Nov 2025 - 15:03 WIB

JAKARTA - Indonesia dan Inggris menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk memperkuat kerja sama di bidang lingkungan hidup dan transisi menuju ekonomi rendah karbon. 

Kesepakatan ini menjadi tonggak penting penguatan diplomasi hijau Indonesia di panggung global.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, dan Secretary of State for Energy Security and Net Zero Inggris, Ed Miliband  di sela pelaksanaan COP30 di Belem, Brasil pada Jumat (7/11). 

Menteri Hanif mengatakan, kemitraan ini bukan sekedsr kerjasama antaranegara  tetapi juga komitmen bersama untuk masa depan bumi. 

"Indonesia siap menjadi mitra strategis dunia dalam mendorong solusi nyata terhadap krisis iklim,” kata Hanif dalam keterangan tertulis, Minggu (9/11/2025).

Lebih lanjut, Hanif menegaskan bahwa kemitraan ini akan segera diimplementasikan melalui pertukaran pengetahuan, proyek bersama, serta pelatihan teknis lintas lembaga dan daerah.

"Solusi berbasis alam dan teknologi harus berjalan beriringan untuk menurunkan emisi secara signifikan,” lanjutnya. 

Sementara itu, Secretary of State for Energy Security and Net Zero Inggris, Ed Miliband menilai kolaborasi ini menjadi bukti bahwa aksi iklim dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi.

“Dengan menggabungkan kekuatan bersama Indonesia, kami menunjukkan bahwa aksi iklim yang tegas dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita,” ujar Miliband.

Melalui MoU ini, kedua negara bersepakat memperkuat mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta tata kelola karbon yang transparan, serta integrasi pembangunan rendah emisi di berbagai level pemerintahan. Untuk memastikan koordinasi dan evaluasi program, akan dibentuk Joint Streering Committee (JSC) yang melibatkan kementerian, lembaga riset, dan pemerintah daerah. 

Dalam catatan bilateral, Inggris menyatakan ketertarikan besar terhadap kerja sama mitigasi di sektor energi, Forestry and Other Land Use (FOLU), serta tata kelola karbon yang mendukung rantai pasok global berkelanjutan.

Di sisi lain, Indonesia menyoroti pentingnya Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Iklim, penguatan pasar karbon berintegritas tinggi, serta pengembangan biodiversity credits dan fasilitasi pertemuan seller–buyer karbon internasional.

Penandatanganan MoU juga memperkuat pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon, yang menjadi kerangka hukum utama pengembangan pasar karbon nasional.

Melalui kerjasama ini, kata Hanif, pihaknya optimis akan mempercepat pencapaian target emisi, memperkuat integritas pasar karbon, dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau nasional. 

"Ini bukan hanya diplomasi, tetapi langkah konkret menuju masa depan yang rendah emisi dan berkeadilan,” tegasnya.

Dalam forum COP30, Hanif juga mengumumkan bahwa Indonesia menargetkan transaksi karbon hingga 90 juta ton CO₂ ekuivalen dari sektor kehutanan, kelautan, energi, dan industri, dengan potensi nilai ekonomi mencapai Rp15 triliun.

“Diplomasi lingkungan tidak lagi berhenti di meja negosiasi—ini saatnya implementasi nyata,” kata Hanif.

Selain memperkuat pasar karbon, kerja sama Indonesia-Inggris membuka peluang inovasi dalam pembiayaan hijau, restorasi hutan, dan pengembangan proyek berbasis alam (nature-based solutions) yang akan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menilai perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama kedua negara dalam mempercepat aksi iklim dan memperluas investasi hijau.

"Kami bangga berdiri bersama Indonesia di COP30. Perjanjian ini mencerminkan komitmen untuk mempercepat aksi iklim dan mendorong solusi berbasis alam yang memberikan kemakmuran bagi masyarakat di kedua negara," ucap Dominic.

Lebih jauh, Hanif menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan bumi.

“Kita tidak bisa menunda masa depan. Dunia membutuhkan langkah konkret, dan Indonesia siap berjalan di garis depan bersama para mitra yang memiliki semangat yang sama untuk bumi yang lebih baik,” pungkas Menteri Hanif.