Dari Lisan ke Layar: Program Polimedia Jamin Kelanjutan Seni Buaya Putih Kabupaten Serang

ANP • Saturday, 8 Nov 2025 - 10:40 WIB

Jakarta - Seni Pertunjukan Buaya Putih, Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kabupaten Serang, Banten, menjadi puncak pementasan dari program Intervensi Strategis yang dilakukan oleh tim dosen Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia). Program ini merupakan pemberdayaan yang dilakukan oleh Polimedia bersama masyarakat untuk menjamin keberlanjutan seni yang terancam punah. Pementasan yang berjudul “Helaran Seni Budaya Putih” ini bertujuan untuk regenerasi dan memutus rantai ketidakmampuan seniman dalam beradaptasi dengan era digital. 

Ketua Tim Pelaksana, Yuda Syah Putra, menjelaskan bahwa intervensi dilakukan melalui tiga pilar utama yakni Regenerasi Terstruktur, Inovasi Artistik, dan Hilirisasi Digital. Untuk menjembatani kesenjangan generasi, Yuda menggelar lokakarya intenstif dengan mempertemukan maestro senior dan peserta muda guna memastikan transfer pengetahuan berjalan sistematis. 

“Inovasi yang kami kembangkan ialah mencakup koreografi yang diperkaya dengan gerak-gerik baru yang lebih energik dan musik tradisional yang diaransemen ulang. Alur cerita juga diperjelas dengan narasi yang lebih menonjolkan pesan kesetiaan dan gotong royong. Ini supaya lebih bermakna dan filosofis bagi para penontonnya” ujar Yuda menjelaskan teknis pembaruan yang dilakukan oleh Tim Polimedia.

Berdasarkan rencana program, Yuda melanjutkan, lokakarya ini menargetkan minimal 20 seniman muda berusia 25 tahun sebagai partisipan aktif. Adapun hasil hanya dari program ini ialah lahirnya pertunjukan inovasi seni dengan judul “Helaran Seni Budaya Putih” dengan durasi lebih singkat yakni 15 sampai 20 menit. Durasi ini dirasa cukup ideal untuk pasar modern dan industri pariwisata.

Selain aspek artistik, tim Polimedia juga membekali Sanggar Seni Buaya Putih dengan aset digital profesional untuk meningkatkan daya saing ekonomi mereka. Luaran digital yang dihasilkan antara lain poster promosi dan video dokumenter yang berfungsi sebagai arsip sinematik dan alat promosi untuk dapat diunggah di platform digital. 

Tak hanya itu, Yuda menyebutkan, anggota muda sanggar juga dilatih untuk mengelola akun media sosial dan membentuk Tim Kreatif Muda. Langkah hilirasi digital ini dinilai efektif mengubah Seni Budaya Putih menjadi produk ekonomi kreatif yang dapat diakses oleh event organizer dan industri pariwisata.

“Melalui inovasi ini, program tersebut tidak hanya melahirkan produk seni baru, tetapi juga mentransformasi komunitas dengan terbentuknya generasi baru seniman yang terampil dan sanggar yang memiliki kapasitas manajemen dan pemasaran mandiri,” tukas Yuda.

Program Inventensi Strategis merupakan implementasi dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), sebuah skema pengabdian masyarakat dari Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) Kemendiktisaintek yang bertujuan untuk menerapkan dan mengembangkan inovasi seni di perguruan tinggi. Adapun kegiatan ini diharapkan dapat mentransformasi pertunjukan Seni Buaya Putih sebagai warisan budaya tak benda yang terancam punah menjadi kebanggan masyarakat Kabupaten Serang, Banten, dengan sinergi antara akademisi dan para maestro ataupun pegiat budaya.