Agrinex 2025: KAPPI Dorong Produktivitas Kopi Melalui Edukasi Berkelanjutan

MUS • Friday, 7 Nov 2025 - 22:19 WIB

Jakarta - Dalam rangkaian pameran Agrinex 2025 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Yayasan Pendidikan Pengembangan Perkopian Indonesia (KAPPI) menyoroti pentingnya kolaborasi antara pembuat kebijakan dan pelaku di lapangan sebagai kunci peningkatan produktivitas kopi nasional.

Salah satu bukti keberhasilan upaya tersebut terlihat di Provinsi Lampung. Pendamping petani, Karjo Matajat, bersama tim KAPPI berhasil mendampingi kelompok tani dalam meningkatkan hasil panen mereka secara nyata.

Melalui pelatihan berkelanjutan dan penerapan teknik agronomi yang terukur, para petani binaan kini mampu mencapai produktivitas hingga 2 ton per hektare.

“Kami mengarahkan petani agar segera memangkas pohon setelah panen dengan tepat sasaran dan waktu serta melakukan pemupukan yang cukup dan tepat. Untuk mencapai 2 ton/hektare, dibutuhkan pupuk sekitar 500 kilogram/hektare atau 250 gram per pohon dengan jenis, dosis dan aplikasi yang tepat,” jelas Karjo Matajat pada Jumat (7/11).

Karjo menambahkan mulai 2026, targetnya adalah menaikkan menjadi 3 ton/hektare dengan jumlah pupuk sekitar 800 kilogram/hektare. Atas dasar itu, penting bagi petani untuk tetap kompak dan saling belajar. 

"Melalui Jambore Petani Kopi yang digelar di Lampung minggu ini, kami ingin menyatukan para petani anggota Kopista agar bisa saling bertukar pengalaman dan memperkuat semangat kolektif menuju target baru,” tambah Karjo.

Praktik lapangan seperti yang dilakukan oleh KAPPI di Lampung menjadi bukti bahwa peningkatan produktivitas kopi rakyat membutuhkan pendekatan berbasis edukasi dan pendampingan berkelanjutan. Namun keberhasilan di tingkat kebun juga harus didukung dengan kebijakan yang selaras di tingkat nasional dan daerah.

BACA JUGA: KAPPI Hadirkan Nonton Bareng Film Kopi Indonesia di SKA Coffee Fest 2025 Lampung Sinema

Dalam sesi yang sama di Agrinex 2025, Menteri Pertanian Indonesia periode 2004-2009, Anton Apriyantono, menegaskan pentingnya koordinasi lintas level pemerintahan agar model sukses seperti di Lampung dapat direplikasi di daerah lain.

“Berbeda dengan Brazil dan Vietnam yang mengembangkan sistem coffee estate terintegrasi, perkebunan kopi Indonesia tersebar dan dikelola oleh jutaan petani kecil. Mengingat itu, pemerintah pusat dan daerah harus berjalan seirama dari kebijakan hulu, pelatihan hingga pembiayaan. Kolaborasi dengan bank-bank untuk permodalan juga penting agar petani punya akses modal untuk meningkatkan produktivitas,” jelas Anton. 

KAPPI sendiri berperan aktif sebagai jembatan antara dunia kebijakan, riset dan lapangan. Melalui pelatihan, riset dan program edukatif, KAPPI membantu petani memahami prinsip pertanian produktif yang berkelanjutan. 

Lembaga ini juga memperkuat diplomasi kopi Indonesia di kancah internasional melalui Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) Conference 2025 di Tokyo dan World Expo 2025 Osaka, sekaligus mendorong kolaborasi nasional lewat kegiatan seperti SKA Coffee Fest 2025 di Lampung.

“KAPPI hadir melalui pelatihan dan riset untuk membantu petani memahami praktik pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan. Kami mendorong inovasi serta menjaga kualitas agar kopi Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha adalah fondasi utama bagi terciptanya komunitas kopi Indonesia yang cerdas, tangguh, dan sejahtera,” ujar Roby Wibisono, Penanggung Jawab KAPPI. 

Melalui semangat edukasi dan kolaborasi lintas sektor, KAPPI menegaskan bahwa peningkatan produktivitas kopi Indonesia hanya dapat dicapai apabila kebijakan dan pengetahuan lapangan berjalan beriringan dari petani, oleh petani, untuk masa depan kopi Indonesia yang berkelanjutan.