Soeharto Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Apa Kata Netizen? 

MUS • Thursday, 6 Nov 2025 - 10:53 WIB

Jakarta — Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto diusulkan kembali menjadi pahlawan nasional pada peringatan hari pahlawan 10 November mendatang. Mengutip akun media sosial Instagram @andreayudias dan @unfilterredmedia.id, sebagian masyarakat yang ditanya mengaku setuju dengan usulan gelar pahlawan untuk Presiden ke-2 RI itu. 

Menurut salah satu dari mereka, Indonesia di tangan Soeharto pada saat itu dinilai makmur dan sejahtera. 

“Misi Bang mau nanya, kalau misalkan Pak Soeharto dijadiin pahlawan nasional, Abang setuju nggak?” tanya Andrea Yudias, seorang pemengaruh, dalam konten miliknya dikutip Rabu (5/11). 

"Setuju, alasannya ya dulu mah zaman Soeharto ya rakyat makmur. Zaman dulu nggak ada ribut-ribut, aman,” jawab warga yang diwawancarai.

Pertanyaan yang sama juga ditanyakan ke warga lainnya. Warga itu juga mengaku mendukung usulan tersebut karena Soeharto dinilai dapat membawa Indonesia disegani negara lain karena peran aktifnya di dunia internasional. 

BACA JUGA: Satu Tahun Pemerintahan Prabowo: Ekonomi RI Tumbuh Kuat, Stabil dan Solid

"Setuju, karena di zaman Bapak Soeharto itu Indonesia tegas kita disegani sama negara-negara lain,” kata dia. 

Selanjutnya, warga juga mengatakan Soeharto adalah sosok bapak pembangunan Indonesia. Di zamannya, pembangunan di berbagai sektor dinilai pesat. 

“Setuju, karena dia dari awal pembangunannya pesat luar biasa. Proyek, listrik, sekolah, bangun masjid,” ujar warga. 

“Kalau menurut saya setuju, setuju aja karena menurut saya dia sudah memulai pembangunan Indonesia dan dilanjutkan presiden-presiden selanjutnya,” kata warga lainnya. 

Sebelumnya Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyerahkan 40 nama tokoh yang diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional. Usulan itu diserahkan kepada Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) Fadli Zon.

Beberapa tokoh yang diusulkan di antaranya Presiden ke-2 RI Soeharto, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), serta aktivis buruh perempuan asal Nganjuk, Marsinah.