Tak Lagi Sendiri Melawan Kanker: Kolaborasi Dokter MRCCC Siloam Hospitals Selamatkan Pasien Stadium Lanjut

MUS • Friday, 31 Oct 2025 - 23:29 WIB

Jakarta — Kanker payudara stadium lanjut masih menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan di Indonesia. Selain beban biaya pengobatan yang tinggi, angka kesintasan pasien di tahap lanjut masih rendah. Namun, para ahli menilai, pendekatan perawatan secara multidisiplin memberikan harapan baru bagi peningkatan kualitas hidup dan peluang kesembuhan pasien.

Data GLOBOCAN 2022 mencatat, setiap tahun terdapat 2,3 juta kasus baru kanker payudara di dunia, dengan angka kematian mencapai 666 ribu kasus. Di Indonesia, sekitar 400 ribu kasus kanker baru terdeteksi setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus. Tanpa upaya pencegahan dan deteksi dini yang kuat, angka ini diperkirakan melonjak hingga 70 persen pada 2050.

Kepala Departemen Medical Check Up MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Agnes, mengungkapkan bahwa banyak kasus kanker payudara ditemukan secara tidak sengaja ketika pasien menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.

“Sebagian besar pasien datang ketika kanker sudah di stadium lanjut karena tidak ada gejala yang dirasakan. Padahal hal ini bisa dicegah dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara rutin, atau melakukan mammografi setahun sekali setelah usia 40 tahun,” jelas dr. Agnes.

Sementara itu, dr. Nina I.S.H. Supit, Sp.Rad PRP (K), Kepala Departemen Radiologi MRCCC, menegaskan bahwa mammografi masih menjadi gold standard dalam skrining kanker payudara. Teknologi terbaru bahkan memungkinkan deteksi tumor berukuran sangat kecil hingga 0,2 milimeter dengan tingkat akurasi tinggi dan kenyamanan lebih baik.

“Kini sudah ada teknologi mammografi yang lebih nyaman, cepat, dan rendah radiasi seperti Mammomat B.brilliant di MRCCC. Tantangan kita justru masih banyak pada edukasi masyarakat, karena masih ada mitos bahwa mammografi menyakitkan atau justru membuat kanker menyebar,” terang dr. Nina.

Ia menambahkan, perempuan di bawah usia 40 tahun disarankan melakukan USG payudara sebagai skrining awal, sementara mammografi dianjurkan bagi usia 40 tahun ke atas, atau lebih muda bila memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara.

Hingga saat ini, dari sekitar 3.000 rumah sakit di Indonesia, hanya 200 yang memiliki alat mammografi. Pemerintah menargetkan agar seluruh rumah sakit provinsi memiliki alat mammografi, serta meningkatkan cakupan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis).

Dr. Siti juga menyoroti rendahnya angka partisipasi skrining. Dari sekitar 20 juta perempuan yang menjalani cek kesehatan gratis, hanya 300 ribu yang bersedia melakukan pemeriksaan payudara. Rendahnya angka ini disebabkan oleh rasa takut, tabu, hingga izin dari keluarga.

Pendekatan lintas disiplin dalam penanganan kanker payudara menjadi simbol dari perubahan paradigma dalam dunia medis: bahwa melawan kanker bukan hanya urusan obat, tetapi juga empati, kolaborasi, dan keberanian untuk memulai deteksi sejak dini.

Seperti disampaikan dr. Agnes dalam program Semangat Lawan Kanker (SELANGKAH) yang diadakan MRCCC Siloam Hospitals di 38 rumah sakit seluruh Indonesia, pemeriksaan payudara gratis diharapkan bisa menjadi langkah awal membangun kesadaran bahwa mengetahui lebih awal berarti memberi diri sendiri kesempatan untuk sembuh. (AYN)