Mewujudkan Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan, Tim Peneliti Polimedia Ciptakan Beras Analog

ANP • Thursday, 30 Oct 2025 - 11:48 WIB

JAKARTA -  Riset dan pengembangan beras analog telah dilakukan oleh tim peneliti Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian uji coba hasil penelitian optimasi formula beras analog Sagu-Garut kaya protein hewani di laboratorium Science and Techno Park-IPB University, Bogor Jawa Barat (14/10/2025), yang merupakan program Pendanaan Hibah Penelitian Bima, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kemdiktisaintek. Tim peneliti ini diketuai oleh Lina Mufidah, serta anggota peneliti Laelatul Pathia dan Eka Rachmawati.

Lina menjelaskan bahwa melalui penelitian ini kita dapat mengetahui karakterisik proporsi formula, fisiokimia , sensorik, legalitas produk, dan publikasi beras analog dari sagu garut penambahan daging/ikan teri.

“Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisik proporsi formula, fisiokimia , sensorik, legalitas produk, dan publikasi beras analog dari Sagu-Garut dengan menambahkan daging atau ikan teri. Beras analog sagu Garut juga mampu mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, serta menciptakan SDM unggul”, tegas Lina.

Beras sebagai makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia dapat menyebabkan ketergantungan terhadap beras padi yang berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, diversifikasi pangan menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada beras padi dengan mengembangkan alternatif berbasis sumber daya lokal.

Selain mewujudkan ketahanan pangan dan menciptakan SDM unggul, inovasi ini juga diharapkan dapat memenuhi kandungan gizi protein yang tinggi, mendapatkan legalitas standard gizi dan standard kemasan, serta dapat disosialisasikan kepada masyarakat sehingga produk beras analog menuju retail.
Selain pendalaman riset dan pengembangan, tim peneliti juga mendiseminasikan hasil penelitiannya kepada mahasiswa/i program studi Seni Kuliner sebagai Panelis untuk selanjutnya diberikan feedback.

“Kami diberikan lima jenis nasi yang berbeda baik dari bentuk, warna, maupun rasa. Kelimanya memiliki rasa dan aroma yang identik daging atau pun ikan. Semakin coklat, rasanya semakin terasa” jelas Rani.
Tim peneliti berharap hasil penelitian ini menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan mampu mengurangi ketergantungan pada beras padi agar dapat mengonsumsi beras berbasis daging maupun ikan.