Rosario (2025): Teror Spiritual dan Praktik Okultisme yang Mendarah

MUS • Thursday, 30 Oct 2025 - 07:58 WIB

Genre: Horor Supranatural 
Sutradara: Felipe Vargas  
Cast: Emeraude Toubia, David Dastmalchian, José Zúñiga, Paul Ben‑Victor
Distributor: Mucho Mas Releasing  
Durasi: 88 menit
Tayang 30 Oktober di Seluruh XXI Indonesia

Film ini mengikuti kisah Rosario Fuentes (Emeraude Toubia), seorang pialang saham sukses yang harus kembali ke apartemen neneknya saat sang nenek sudah meninggal.

Rosario harus bersama jasad neneknya di sebuah kamar sempit yang gelap dan penuh misteri, menunggu ambulans datang dalam badai salju yang tak kunjung selesai sepanjang malam.

Film ini berhasil menciptakan perasaan mencekam dan rasa terkurung yang tak berdaya karena memakai setting apartemen yang terjebak dalam badai, lorong sempit serta pencahayaan remang. Ide jenius untuk menciptakan sebuah film dengan durasi yang cukup panjang hanya dari sebuah kamar sempit di apartemen kumuh.

Penampilan Emeraude Toubia sebagai Rosario juga menarik perhatian. Sebagai wanita sukses di dunia modern, ia bisa menampilkan kecanggungan sekaligus berani dalam menghadapi rahasia dibalik kematian neneknya yang mencurigakan dan penuh misteri.

Penampilannya terasa autentik dan tidak berlebihan, cukup untuk membuat penonton ikut terperangkap dalam ketegangan batin yang ia alami. Di sinilah kekuatan film Rosario berakar, yakni pada dinamika psikologis antara warisan masa lalu dan identitas modern. 

Apartemen sang nenek bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang transisi antara dunia nyata dan dunia roh, tempat dimana setiap adegan menegangkan dan membuat merinding ditampilkan dengan penuh perhitungan hingga berhasil menakuti penonton.

Rosario dikemas sangat padat, tidak sekadar hantu dan jumpscare, tapi juga soal warisan keluarga imigran, identitas yang terlupakan, serta konsekuensi ketika seseorang meninggalkan akar budaya mereka.

Pada akhirnya, Rosario bukan sekadar kisah tentang teror yang berwujud, tapi tentang sesuatu yang lebih sunyi dan menyakitkan.

Felipe Vargas menutup kisah ini tanpa kepastian mutlak, dan justru di situlah kekuatannya. Tidak ada jawaban tuntas, hanya kesadaran bahwa kegelapan bisa lahir bahkan dari cinta.

Rosario adalah film horor yang patut ditonton terutama jika Pendengar Trijaya menyukai jenis horor yang menekankan pada atmosfer, ketegangan lambat, dan akarnya ada dalam trauma personal serta budaya etnis. (AYN)