.jpeg)
JAKARTA - Presiden Indonesia Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin dunia di Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Senin (13/10) lalu. Pertemuan tersebut bertujuan menyelesaikan kesepakatan perdamaian yang diharapkan dapat mengakhiri perang di Gaza yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.
Pengamat Geopolitik, Kolonel Dedy Yulianto mengatakan, kehadiran Prabowo di forum tersebut menjadi langkah diplomasi penting sekaligus menunjukkan keberanian politik seorang pemimpin dari negara Selatan dalam kancah diplomasi global.
“Kehadiran Presiden Prabowo di KTT Mesir menegaskan posisi Indonesia sebagai pelopor perdamaian dunia, sekaligus menunjukkan karakter diplomasi keberanian memosisikan Indonesia di jantung konflik Gaza,” ucap Dedy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (20/10/2025).
KTT Perdamaian Gaza yang digagas oleh Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi ini dihadiri sekitar 20 pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Raja Yordania Abdullah II, dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang awalnya dijadwalkan hadir, akhirnya membatalkan keikutsertaannya. Prabowo tetap menyuarakan posisi Indonesia.
Menurut Dedy, tujuan utama kehadiran Prabowo adalah untuk menegaskan dukungan penuh Indonesia terhadap penghentian kekerasan di Gaza dan solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalan menuju kemerdekaan Palestina.
Kehadiran Prabowo di KTT Mesir disebut melanjutkan langkah diplomasi yang sebelumnya ia sampaikan di Sidang Umum PBB ke-80 di New York pada September lalu. Dalam pidatonya di forum PBB, Prabowo dengan tegas menyerukan solusi dua negara dan hidup berdampingan secara damai antara Palestina dan Israel.
Menurut Dedy, langkah tersebut memperkuat citra Indonesia sebagai negara nonblok yang netral, realistis, dan kredibel dalam isu global.
“Presiden Prabowo juga menegaskan kesiapan Indonesia mengirimkan hingga 20.000 personel tambahan pasukan penjaga perdamaian PBB untuk ditempatkan di Gaza dan wilayah konflik lain seperti Ukraina, Sudan, dan Libya,” ujar Dedy.
Dedy menilai, keterlibatan Indonesia di KTT Perdamaian Gaza menunjukkan pengakuan dunia terhadap posisi Indonesia sebagai mitra negosiasi yang konstruktif.
“Dengan jumlah umat Muslim terbesar di dunia dan konsistensi membela hak-hak Palestina sejak dulu, Indonesia kini diakui sebagai pemain penting dalam diplomasi perdamaian global,” kata Analis Madya bidang Humas Kementerian Pertahanan RI.
Lebih jauh, Dedy menyoroti capaian Presiden Prabowo selama satu tahun masa pemerintahannya. Ia mengatakan, di tingkat domestik, Prabowo fokus pada pemberantasan korupsi dan reformasi BUMN melalui perombakan direksi besar-besaran. Kemudian program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah.
"Program swasembada pangan dan energi nasional. Lalu, reformasi kelembagaan Polri dan birokrasi pemerintahan," ucap Dedy.
Dalam arena global, gebrakan diplomasi Prabowo terbagi ke dalam empat bidang utama. Pertama diplomasi kemanusiaan dan perdamaian dunia. Caranya melalui peran aktif di Gaza, upaya deeskalasi Iran-Israel, dan keterlibatan dalam proses damai Rusia-Ukraina.
Kedua, diplomasi kedaulatan ekonomi dengan percepatan aksesi Indonesia ke BRICS dan OECD. "Penguatan perjanjian perdagangan bebas IEU–CEPA," ujar Deddy.
Ketiga diplomasi bilateral ekonomi dan Investasi. "Lewat lawatan ke AS, Tiongkok, Rusia, Arab Saudi, negara-negara Pasifik dan Eropa, yang membawa komitmen investasi miliaran dolar untuk mendukung hilirisasi sumber daya alam Indonesia," ungkap Dedy.
Keempat diplomasi pertahanan dengan modernisasi alutsista, transfer teknologi pertahanan, peningkatan kapasitas industri strategis, dan kepemimpinan aktif Indonesia dalam ASEAN Defense Ministers` Meeting Plus (ADMM-Plus).
“Gebrakan Prabowo dalam negeri maupun luar negeri membuktikan Indonesia mampu memainkan peran strategis dalam perdamaian dunia sekaligus menjaga kepentingan nasional sekaligus kemanusiaan global,” pungkas Dedy.