Eddy Susanto Menang UOB Painting of the Year 2025 Lewat Karya ‘Kuasa dalam Setara’

FAZ • Thursday, 16 Oct 2025 - 01:50 WIB

JAKARTA - UOB Indonesia menganugerahkan penghargaan 15th UOB Painting of the Year (POY) (Indonesia) kepada Eddy Susanto, perupa asal Yogyakarta berusia 50 tahun, lewat karyanya yang berjudul “Kuasa dalam Setara”.

Karya tersebut meraih penghargaan tertinggi dalam kategori Perupa Profesional. Eddy menghadirkan eksplorasi sejarah dan budaya yang menyoroti pemahaman identitas pria dan wanita melalui media unik berupa kulit lembu transparan, lembaran akrilik, dan pena gambar.

Terinspirasi dari ukiran vanitas karya Willem Isaacsz van Swanenburg pada 1608 dan teks filsafat Jawa Serat Sastrajendra Hayuningrat, lukisan ini memadukan alegori visual Eropa dengan kosmologi Jawa. Hasilnya, tercipta refleksi mendalam tentang hubungan antara kekuasaan, kesetaraan, dan identitas dalam lintasan budaya dan sejarah.

“Karya ini merefleksikan bagaimana sejarah dan keyakinan membentuk pemahaman tentang identitas kita. Dengan meleburkan tradisi vanitas yang merefleksikan kerapuhan hidup dengan filosofi Jawa, karya ini mengundang masyarakat untuk memaknai bagaimana konsep kekuasaan dan kesetaraan terus didefinisikan ulang dalam kesadaran budaya kita, menjadi dialog berkelanjutan melampaui perbedaan budaya dan konteks filosofi,” ujar Eddy di Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Panel juri UOB POY (Indonesia) ke-15 terdiri dari Dr Agung Hujatnika (Ketua Dewan Juri, Kurator Independen dan Dosen ITB), Alia Swastika (Direktur Biennale Jogja Foundation), dan Venus Lau(Direktur Museum MACAN Jakarta).

Ketua Dewan Juri UOB UOB Painting of the Year 2025, Agung Hujatnika menilai karya Eddy menghadirkan kedalaman konsep dan ketepatan teknis yang kuat. 

Ia mengatakan, sang perupa menunjukkan keterampilan yang matang dalam teknik pelapisan, kolase, dan gambar detail, serta mengintegrasikan aksara Jawa yang menghadirkan refleksi kosmologis. Dengan memadukan tradisi visual Eropa dan Jawa, karya ini membangun dialog halus antara budaya, sejarah, dan keyakinan. 

“Karya ini mencerminkan kematangan dan pemikiran mendalam sang perupa terhadap sejarah dunia, sekaligus kedekatannya dengan budaya lokal Indonesia melalui penggunaan kulit lembu yang digunakan secara tradisional sebagai materi utama seni wayang kulit,” ucap Agung. 

Selain itu, Presiden Direktur UOB Indonesia, Hendra Gunawan menyampaikan apresiasi kepada Eddy Susanto dan seluruh peserta kompetisi.

Hendra mengatakan, ajang UOB POY ini dirancang untuk menyediakan wadah bagi perupa untuk menunjukan kreativitanya. Melalu ajang ini, Ia berharap dapat mengundang para seniman untuk berdialog secara bermakna dan merayakan ekspresi budaya. 

“Kuasa dalam Setara merefleksikan kualitas dan kedalaman karya yang terinspirasi oleh kompetisi ini, yang mencerminkan bagaimana seni dapat menantang perspektif, menghubungkan tradisi, dan memperkaya pemahaman kita tentang masyarakat,” jelas Hendra.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo mengatakan, kompetisi UOB POY telah menunjukkan kontribusi konsisten terhadap kemajuan seni di Indonesia yang melampaui batasan geografis. 

Sebagai platform bagi perupa baru, lanjutnya, UOB POY turut memperkuat ekosistem seni dan mendorong apresiasi masyarakat terhadap seni. 

“Saya mengucapkan selamat kepada para pemenang dan finalis UOB POY yang terus menampilkan kekayaan warisan budaya Indonesia kepada dunia. Kami berharap karya-karya yang dihasilkan dapat membangkitkan semangat kolektif untuk diapresiasi di tingkat regional dan global,” pungkas Giring.

Sebagai pemenang utama kompetisi UOB POY (Indonesia) ke-15, Eddy Susanto berhak menerima uang tunai sebesar Rp250 juta. Karya seninya akan bersaing dengan karya pemenang dari Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam dalam UOB Southeast Asian POY yang akan diumumkan pada 12 November 2025 di Singapura.

Di kategori Perupa Pendatang Baru, penghargaan 15th UOB Most Promising Artist of the Year (Indonesia) diraih oleh Muhammad Shodik, perupa muda berusia 24 tahun asal Probolinggo, Jawa Timur.

Karyanya berjudul “i am here” menggambarkan hubungan rapuh antara dirinya dan sang ayah yang tidak terdokumentasi, dengan menggunakan foto, pesan, serta arsip pribadi untuk merekam ingatan dan ketidakhadiran.

Tulisan berulang “i am here” menciptakan ruang reflektif antara kepergian dan kepulangan, menonjolkan kehadiran, kerentanan, serta upaya manusia menjembatani batas-batas emosional dan geografis.

Sebagai informasi, UOB Indonesia akan menampilkan 48 karya finalis kompetisi 15th UOB Painting of the Year (Indonesia), termasuk delapan karya pemenang, di Melting Pot, ASHTA District 8 Jakarta (lantai GF).

Pameran ini terbuka untuk umum mulai 15 hingga 30 Oktober 2025, pukul 10.00–22.00 WIB. UOB juga bekerja sama dengan Art Jakarta dalam penyelenggaraan pameran.