Archipelago Video Summit 2024 Soroti Inovasi AI dan Strategi Monetisasi Streaming

FAZ • Wednesday, 15 Oct 2025 - 16:26 WIB

JAKARTA - Lebih dari 150 eksekutif senior industri media dari seluruh Asia berkumpul dalam Archipelago Video Summit 2024 yang digelar di Jakarta pada 9 Oktober 2025. 

Forum ini menjadi ajang bagi para pelaku industri untuk mendalami masa depan video di pasar-pasar paling dinamis di kawasan, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Dalam pidato pembuka, Managing Director Vidio, Hermawan Sutanto, memaparkan strategi perusahaannya dalam memperkuat posisi sebagai platform streaming lokal. 

Ia menekankan pentingnya hak siar olahraga dan konten orisinal sebagai pendorong utama pertumbuhan, dengan pendekatan pendapatan ganda dari iklan dan langganan.

“Di Indonesia, Execution is everything,” ujar Hermawan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Ia juga menyoroti sikap agresif Vidio dalam melawan pembajakan dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di tiga bidang utama: hypertargeting untuk rekomendasi pelanggan, otomatisasi layanan, serta inovasi bisnis seperti iklan dinamis dan penerjemahan bahasa lokal.

Hermawan memproyeksikan bahwa penetrasi layanan streaming OTT di Indonesia dapat meningkat dua kali lipat hingga mencapai 15 persen dalam lima tahun ke depan.

Dalam sesi bertajuk “Reinventing for a Dynamic Future”, Presiden & CEO MediaQuest Holdingsdan Cignal TV, Jane Jimenez-Basas membahas ekosistem media Filipina yang tengah bertransformasi.

Menurut Jane, meskipun TV linear masih bertahan, momentum pertumbuhan kini datang dari sektor streaming. Namun, rendahnya pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) menjadi tantangan tersendiri.

Ia menilai, kemitraan strategis seperti distribusi perangkat dan peluncuran aplikasi menjadi kunci memperluas jangkauan dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. 

"Saya mencoba membangun ekosistem yang berfokus pada konten, bukan bisnis saluran," ucap Jane.

Cignal TV pun tengah menjajaki produksi drama mikro berbasis AI, menyasar generasi muda yang gemar mengonsumsi konten pendek dan cepat.

Isu pembajakan menjadi salah satu sorotan utama sepanjang konferensi. Gina Golda Pangaila, SVP Legal, Anti-Piracy & Government Relation Vidio, menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dengan kombinasi antara perlindungan teknologi seperti DRM dan langkah ofensif melalui peningkatan pengalaman pengguna.

Ia juga mengapresiasi peran AVIA dan AVISI dalam melobi pemerintah agar lebih mendukung upaya industri memerangi pembajakan.

Sementara itu, Darmawan Zaini, CTO Vision+, menekankan perlunya edukasi konsumen, khususnya generasi muda, bahkan mengusulkan sanksi bagi penonton konten bajakan.

Senada, Ian Franklyn, Chief Revenue Officer MainStreaming, menyebut pembajakan sebagai “kejahatan terorganisir” yang menuntut deteksi dan respons real-time, terutama untuk konten siaran langsung olahraga.

"Pembajakan bukan lagi gangguan—ini adalah kejahatan terorganisir.Tujuannya adalah untuk mengembalikan kekuatan kepada pemilik konten," kata Franklyn.

Selain isu digital, diskusi juga menyoroti peran teknologi satelit. Perwakilan dari AsiaSat, MEASAT, dan INTEGRASYS menegaskan bahwa satelit masih memiliki relevansi tinggi dalam menjangkau wilayah pedesaan serta membantu menjembatani kesenjangan digital di Asia Tenggara.

Pada sesi tentang strategi monetisasi, sejumlah pembicara membahas tantangan dan peluang Connected TV (CTV) di Asia Tenggara.

Menurut Tushar Tyagi, Head of Channel Partnerships Samsung Ads, kawasan ini memiliki potensi besar untuk “melompati” tahapan tradisional menuju sistem periklanan berbasis data dan hasil yang cerdas.

Ia menekankan pentingnya standarisasi, edukasi, dan penerapan AI untuk mengoptimalkan potensi monetisasi CTV.

Sementara itu, Sachidananda Panda, President Client WPP Media, menyimpulkan masa depan streaming dengan konsep “tiga I” — Intelligence, Integration, Impact — yang menurutnya akan membentuk gelombang baru periklanan video berbasis data dan lintas platform.

Acara ditutup dengan dialog CEO yang menghadirkan Mike Kerr dari beIN Media Group dan Alexandre Muller dari TV5MONDE.

Mike menyoroti pentingnya akuisisi konten yang selektif dan kemitraan strategis di bidang olahraga, sementara Alexandre menekankan bahwa adopsi teknologi baru di Asia menuntut pemahaman lokal dan kolaborasi erat.

Dialog ditutup dengan optimisme bahwa masa depan industri video di kawasan ini akan ditopang oleh adaptasi, inovasi, dan fokus pada konsumen.