.jpg)
Genre: Horor
Pemeran: Ethan Hawke, Mason Thames, Madeleine McGraw
Sutradara: Scott Derrickson
Durasi: Hampir 2 jam
Distributor: Universal
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 15 Oktober 2025
Telepon misterius berdering lagi. Teror dari penculik kembali hadir, setelah sukses menjadi horor fenomenal dari Blumhouse Production pada tahun 2022, dengan pendapatan 160 juta dolar atau setara Rp 65 miliar di seluruh dunia.
Dalam edisi pertama, tokoh utama Finney (Mason Thames) yang masih berusia 13 tahun, sebenarnya telah berhasil mengalahkan The Grabber (Ethan Hawke). Kali ini, kita diajak berkenalan dengan Finney yang memasuki usia dewasa.
Dia masih terguncang dengan kejadian mengerikan di basement bersama The Grabber. Finney menjadi sosok perundung, pemurung, suka merokok ganja, dan cenderung tak bisa memilik teman-teman sebayanya.
Finney hanya memiliki relasi mendalam dengan adiknya, Gwen. Sedangkan ayah tunggalnya terkesan seolah-olah tak terlalu mengenal Finney. Dibayangi trauma masa lalu, Finney selalu berusaha melindungi Gwen, yang memiliki gangguan tidur.
Gwen kerap tidur berjalan, dan memimpikan kejadian-kejadian buruk termasuk pembunuhan terhadap anak-anak kecil di tempat tak dikenal. Meski hanya mimpi, Gwen meyakini, momen tersebut bukanlah bunga tidur belaka, tetapi pesan dari dunia kelam.
Ketika gangguan yang dianggap halusinasi kian memburuk, Gwen menjadi terobsesi untuk menyelesaikan rangkaian petunjuk dari mimpi-mimpinya. Sementara Finney sebenarnya tak ingin berurusan lagi dengan urusan kengerian masa lalu, meski di sisi lain dia selalu ingin mendampingi Gwen.
Sebenarnya apa yang mengganggu tidur Gwen setiap malam? Kenapa terasa begitu nyata dan terlihat menyedihkan sekaligus menyeramkan? Black Phone 2 menjawabnya dalam cerita berlapis yang seru untuk diikuti.
Elemen spiritualitas lokal yang biasanya terasa kuat diceritakan pada horor masyarakat timur, malah justru dikemas secara wajar, untuk meyakinkan unsur kisah balas dendam. Pertentangan tentang surga-neraka, kebaikan-kejahatan dikiaskan dalam kontradiksi panasnya api dengan dinginnya es.
Efek visual yang menggambarkan fenomena dunia gaib dan realita, juga cukup memberikan kesan menakutkan, termasuk adegan kekerasan berdarah-darah, dan serangan kejam sosok iblis, siap menghantui penonton.
Musik era tahun 1980-an ditambah latar tempat pada masa tersebut, yang masih sederhana di pelosok Amerika Serikat, terkesan sepi dari sentuhan teknologi serta media sosial, ditambah nyaringnya suara telepon jadul dalam kesunyian, ternyata cukup mampu membangun ketegangan secara maksimal.
Black Phone 2 siap menghantui penonton edisi pertamanya, maupun penggemar horor yang baru mengikutinya, tanpa perlu menonton Black Phone tahun 2022. Yang pasti, rasa penasaran akan tersisa sehingga tergoda untuk menonton lagi Black Phone.