Kilang Minyak Mati, Indonesia Terus Impor Dari Singapura

AKM • Monday, 13 Oct 2025 - 11:26 WIB
Lawyer, Writer, Politician. Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M.

Jakarta - Lawyer, Writer, Politician. Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M. menilai  Indonesia adalah negeri penghasil minyak yang aneh. Indonesia punya cadangan minyak, tapi malah mengimpor besar-besaran.

“Ironisnya dari Singapura, negara yang bahkan tidak punya sumur minyak satu pun. Inilah potret tragis dari manajemen energi nasional yang tersesat arah dan kehilangan keberanian untuk mandiri,” ujar Didi dalam keterangan tertulis, Jakarta, Senin (13/10).

Didi menjelaskan Sejak 2018, Pertamina menjanjikan membangun tujuh kilang dalam lima tahun. Janji tinggal janji. Hingga kini, hasilnya nol besar. Kilang Balikpapan, Tuban, hingga Bontang yang digadang-gadang menjadi tulang punggung kemandirian energi, tak satu pun selesai. 

“Yang terjadi justru kebakaran berulang, keterlambatan, dan proyek mangkrak — lebih mirip drama sinetron yang tak berkesudahan,” tegas Didi yang juga mantan anggota DPR 3 periode ini.

Menurut Didi, tanpa kilang baru, Indonesia akan terus menjadi pasar bagi negara lain. Pemerintah menyebut impor sebagai “shock absorber”, seolah solusi sementara. 

“Tapi apa gunanya peredam kejut kalau mobilnya memang sengaja diarahkan ke lubang besar bernama ketergantungan impor permanen?” tanya didi.

Kita Kalah dari Malaysia

Didi menuturkan jika melihat  Malaysia negara yang baru merdeka setelah indonesia, kini menikmati hasil kilang modern milik Petronas. Mereka membangun sistem energi terintegrasi dari eksplorasi sampai hilir. 

“Kita? Masih berkutat pada proyek kertas, studi kelayakan yang tak berujung, dan pejabat yang lebih sibuk mengatur kursi direksi daripada mengamankan pasokan energi bangsa,” tambah Didi.

“Negara lain menambah kapasitas produksi, sementara kita kehilangan arah dan waktu. Setiap hari, Indonesia kehilangan miliaran rupiah hanya untuk impor bahan bakar yang seharusnya bisa diolah di negeri sendiri,” lanjutnya.

Didi menjelaskan, Impor dari Singapura adalah bukti betapa indonesia sengaja menjadikan diri sendiri pasar permanen. Singapura hanyalah pusat perdagangan, bukan produsen minyak. 

“Tapi karena kita tak punya cukup kilang, mereka justru menjadi penyalur utama energi kita. Negeri kaya sumber daya, tapi miskin keberanian membangun kemandirian,”  tambahnya.

Didi menegaskan kemandirian energi seharusnya bukan jargon politik, tapi strategi bertahan hidup. Tanpa kilang baru, setiap krisis global akan membuat kita panik, harga BBM melonjak, dan APBN berdarah. 

“Kita menjadi bangsa penonton di tanah sendiri, menggantungkan nasib energi pada pelabuhan negara tetangga,”  katanya.

Didi mencobtohkan, Indonesia anggota OPEC yang disegani. Kini, indonesia sekadar pembeli yang antre di pintu negara lain. Semua karena kelalaian panjang dan kepemimpinan yang lebih suka berjanji ketimbang bekerja. Inilah potret nyata: negeri produsen minyak yang kehilangan nyali untuk berdiri di atas kaki sendiri.

“Kilang bukan sekadar proyek infrastruktur, tapi simbol kedaulatan. Selama pembangunan kilang hanya jadi alat politik, selama itu pula kita akan terus menanggung malu: negeri kaya energi yang hidup dari impor. Dan ketika rakyat membayar mahal di pom bensin, yang terbakar bukan hanya tangki kilang Pertamina — tapi juga harga diri bangsa,” tandasnya.