Living Laboratorium, Solusi Hadirkan Keahlian Peneliti Selesaikan Masalah Masyarakat

AKM • Saturday, 4 Oct 2025 - 08:43 WIB
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek, Kemendiktisaintek Yudi Darma (Tengah) Dosen Sastra Inggris dari Universitas Negeri Malang (UM). Evi Eliyanah (Kanan), dosen sekaligus sejarawan Monash University, Luthfi Adam (Kiri)

Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) akan merancang program living laboratorium. Program ini membuka ruang laboratorium bagi masyarakat.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kemendiktisaintek, Yudi Darma mengatakaN program living laboratorium bertujuan agar keahlian para peneliti dapat langsung dimanfaatkan  menyelesaikan persoalan di masyarakat. Kehadiran program ini diharapkan dapat mendobrak sekat antara peneliti dan masyarakat. 

“Tujuan program living laboratorium agar keahlian para peneliti dapat langsung dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ujarnya  dalam diskusi di Jakarta, Jumat (3/10/2025).

Menurut Yudi, banyak kegiatan sains dan teknologi hanya dalam laboratorium saja. 

“Riset harus hadir sebagai jawaban atas persoalan masyarakat,” tegasnya.

Yudi menuturkan keterlibatan publik menjadi kunci agar hasil penelitian berdampak.

“Karena itu, keterlibatan publik menjadi kunci agar hasil penelitian benar-benar berdampak,” imbuhnya.

Ia mengatakan, masyarakat memiliki harapan, bahkan tuntutan. Di sisi lain, peneliti juga mendapatkan porsi ide dari masyarakat dalam research center.

“Kontribusi masyarakat dalam saintek harus lebih masif. Interaksi yang tercipta tidak hanya bersifat sementara, melainkan berkelanjutan, sehingga hasilnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Sehingga ada keberlanjutan di sana,” katanya.

Keterlibatan Masyarakat Diperkiat

Dosen Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UNM) Evi Eliyanah. menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sejak tahap awal riset melalui konsep co-kreasi. Yakni sejak pemetaan masalah hingga lahirnya produk penelitian.

Dengan co-kreasi, menurutnya, masyarakat tidak hanya menerima hasil riset, tapi juga terlibat sejak awal dalam mengembangkan solusi.

 “Model riset yang hanya melemparkan produk baru ke masyarakat kerap terkendala dalam pemanfaatan. Dengan melibatkan masyarakat sejak awal, setiap produk hasil riset bisa sesuai kebutuhan,” sambungnya.

Ia meyakini, dengan keterlibatan masyarakat bisa mengoptimalkan riset dari hulu ke hilir. Hasil penelitian, menurutnya, tidak berhenti pada penemuan semata, tetapi bisa dikembangkan, disebarkan, dan dimanfaatkan lebih luas.

“Riset harus dimulai dari pemetaan masalah baru, sehingga produk riset bisa langsung diterapkan di masyarakat,” pungkasnya.