Genre: Adventure
Sutradara, penulis, produser: Paul Thomas Anderson (Boogie Nights, Hard Eight)
Pemeran: Leonardo DiCaprio, Sean Penn, Benicio Del Toro
Durasi: 2,5 jam
Distributor: Warner Bros. Pictures
Format: termasuk IMAX
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 24 September 2025
Aktivis politik revolusioner bernama Pat alias Bob, yang diperankan aktor Leonardo DiCaprio, sangat berambisi mengubah dunia. Dengan kemampuan merakit peledak dan keberanian tanpa batas, dia termasuk dalam pimpinan kelompok ekstrimis French 75.
Bersama kekasihnya, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor), serta kawan-kawan seperjuangan di French 75, Bob melancarkan beberapa aksi untuk membebaskan imigran gelap, beraksi melawan polisi bersenjata, demi mewujudkan dunia yang lebih baik.
Ketika perjuangan French 75 semakin intens, Bob mengalami patah hati. Perfidia meninggalkannya dengan putri semata wayang, Willa. Didukung kekuatan penyamaran di French 75, Bob dan Willa diungsikan ke tempat lain agar tak dapat terdeteksi.
16 tahun kemudian, pergumulan hidup sehari-hari telah menjadi bagian dari hidup Bob dan Willa di kota terpencil. Bob berusaha menjadi ayah yang baik, namun tetap terjebak pada masa lalu. Dia hanya minum-minum, mengisap ganja, dan menonton film revolusioner hitam-putih dari tahun 60-an sepanjang hari.
Semua terlihat berjalan baik-baik saja, sampai musuh bebuyutan dari masa lalu muncul lalu mempertanyakan segala realita yang diketahui Bob dan Willa. Mereka perlu bekerja sama dan berjuang lebih kuat untuk melawan konsekuensi atas masa lalu.
Bagaimana sebenarnya awal terjadinya pertarungan demi pertarungan dalam One Battle After Another? Lalu seperti apa akhirnya? Penonton akan diajak mengikutinya melalui sajian seru dan menegangkan, dengan kemasan lengkap dari sisi audio visual.
Untuk memanjakan mata, One Battle After Another direkam dalam format VistaVision, karena sutradara Paul Thomas Anderson ingin penonton dapat menikmati secara baik dalam format besar, maupun dalam format besar tambahan yang mencakup IMAX®, serta film 70mm.
Untuk memberikan visual otentik pada film ini, Anderson memilih untuk mengambil gambar di lokasi asli, mulai dari El Paso, Texas hingga Eureka, California; diiringi musik yang atraktif dan terdengar begitu sesuai, mengikuti keseruan adegan.
Sutradara Anderson menyebut seperti diberi keleluasaan untuk pengembangan cerita. Sesederhana adegan di pesta dansa SMA saja, tim di balik layar membiarkan anak-anak yang benar-benar bersekolah, untuk tampil di adegan tersebut.
"Kami pergi ke sana untuk mencari tahu, merekam setiap lagu yang mereka mainkan, mencatat semua yang mereka kenakan, lalu membawa mereka kembali dan memfilmkan pesta dansa SMA mereka. Itu cara yang bagus untuk bekerja, dalam hal cerita kontemporer," jelas Anderson yang juga bertindak sebagai penulis dan produser.
Dari sisi cerita, meski latar tempatnya di negeri Paman Sam, tetapi penonton Indonesia juga tetap bisa merasakan kedekatan di beberapa bagian. Kisah tentang demonstran berhadapan dengan polisi, sisi kelam para penegak hukum, serta nilai-nilai kesetaraan dalam kemanusiaan, membuat kita merasa tak asing.
Adegan-adegan demonstrasi lengkap dengan pelemparan molotov, malah mengingatkan dengan aksi unjuk rasa yang kerap dialami pada beberapa waktu terakhir. Digambarkan pula tentang siapa sebenarnya provokator yang malah memperkeruh suasana.
Paul Thomas Anderson mengerjakan cerita ini sekitar 20 tahun lalu, untuk action kejar-kejaran mobil. Pada saat yang sama, di awal tahun 2000-an, dia terpikir untuk mengadaptasi Vineland karya Thomas Pynchon, sebuah buku tentang tahun 1960-an, yang ditulisnya pada tahun 80-an.
"Jadi, saya mencoba memutuskan apa arti cerita ini 20 tahun kemudian. Ide ketiga yang muncul di benak saya saat itu adalah sebuah karakter, seorang revolusioner perempuan. Jadi, selama 20 tahun saya telah menarik semua benang yang berbeda ini, dan bisa dibilang, tak satu pun dari benang-benang itu pernah meninggalkan saya. Realistisnya, bagi saya, Vineland akan sulit diadaptasi. Sebaliknya, saya mencuri bagian-bagian yang benar-benar beresonansi dengan saya dan mulai menggabungkan semua ide ini. Dengan restunya," terang Anderson.
Aktor Leonardo DiCaprio sebagai pemeran Bob Ferguson didasarkan pada gabungan berbagai tokoh revolusioner dari beragam kelompok pada akhir 1960-an, yang ingin ditempatkan dalam konteks modern. "Bagaimana jika kita memiliki sekelompok anak muda anti-pemerintah, anti-kemapanan, dan anti-kapitalisme yang datang untuk sesuatu karena alasan yang tepat, tetapi kemudian berakhir dengan mengorbankan diri mereka sendiri dan melakukan hal-hal yang mereka sesali? Dan apa yang akan terjadi pada generasi berikutnya, keturunan mereka?" jelas DiCaprio.
Secara keseluruhan, penonton disuguhkan tampilan berkelas bertabur bintang yang ceritanya terjadi di balik belahan dunia namun terasa dekat dengan keseharian kita. Relasi antarmanusia dipaparkan secara mendalam, mulai dari polisi-demonstran, sampai ayah-anak.