Wamen LH: MBG Tak Hanya Soal Gizi, tapi juga Edukasi Lingkungan

FAZ • Saturday, 20 Sep 2025 - 23:52 WIB

JAKARTA - Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjamin pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga menjadi sarana edukasi pengelolaan sampah dan limbah yang berkelanjutan.

“Program MBG ini bagus, anak-anak kelihatan senang, porsinya pas, dan juga memperhatikan anak yang alergi. Tapi lebih dari itu, kita juga ingin pastikan pengelolaan sampahnya menjadi contoh terbaik,” kata Diaz dalam pernyataan resmi di Jakarta, Sabtu (20/9/2025).

Diaz meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Halim Perdana Kusuma dan sejumlah sekolah penerima MBG di Jakarta Timur, Jumat (19/9). Dalam kunjungan tersebut, ia memantau langsung layanan makan bergizi untuk siswa dan sistem pengelolaan sampah dari dapur SPPG yang setiap hari memasak ribuan porsi makanan.

Saat ini, SPPG Halim melayani siswa dari 15 sekolah dengan kapasitas dapur mencapai lebih dari 6.000 porsi per hari. Pengelolaan sampah dilakukan melalui pemilahan organik dan anorganik, pemanfaatan sampah organik sebagai pakan ternak, serta kerja sama dengan bank sampah.  Dapur juga dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sederhana.

“Dengan pengomposan, kita bukan hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menciptakan manfaat baru dari sampah organik,” ujar Diaz.

Sebagai bentuk dukungan, KLH menyerahkan dua unit komposter berkapasitas 30–50 kilogram per hari serta unit IPAL tambahan bagi dapur SPPG Halim. Komposter ini dapat mengolah sampah organik menjadi kompos sekaligus menghasilkan pupuk organik cair yang bermanfaat bagi tanaman sekitar.

Diaz berharap SPPG Halim menjadi contoh bagi dapur-dapur lainnya, terutama dalam pengelolaan sampah dan limbah. Selain itu, Ia juga membagikan tumbler kepada siswa untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Makanannya sudah disajikan dengan tray logam, jadi tidak ada sampah plastik. Dengan tumbler ini, adik-adik tidak perlu lagi minum dari gelas sekali pakai yang langsung jadi sampah. Kebiasaan kecil seperti ini punya dampak besar untuk lingkungan,” ucapnya.

Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional menargetkan pembangunan 30.000 unit SPPG hingga akhir 2025. Dengan kapasitas rata-rata 3.000 siswa per unit, timbulan sampah dari program ini diperkirakan mencapai 800 ton per hari. 

Karena itu, menurut Diaz, pengelolaan sampah terpadu dan tepat guna menjadi kunci keberlanjutan program.

“Sinergi antara pemenuhan gizi dan pengelolaan sampah diharapkan melahirkan generasi yang sehat sekaligus peduli pada keberlanjutan bumi,” pungkasnya.