Bukan Mata Merah Biasa, JEC Ingatkan Ancaman Uveitis dan Gangguan Retina

FAZ • Thursday, 18 Sep 2025 - 09:15 WIB

Jakarta — Mata merah sering dianggap masalah sepele. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda peradangan serius seperti uveitis, yang berisiko merusak retina hingga menyebabkan kebutaan permanen. Peringatan ini disampaikan JEC Eye Hospitals and Clinics dalam rangka World Retina Day 2025 pada September dan menyambut Inflammation Eye Disease Awareness Week bulan Oktober mendatang.

Retina berfungsi sebagai penghubung cahaya dengan otak. Gangguan kecil pada retina dapat mengacaukan penglihatan. Termasuk peradangan mata seperti uveitis, keratitis, dan skleritis yang dapat merusak retina jika tidak ditangani cepat.

“Uveitis bukan sekadar peradangan mata biasa. Banyak pasien baru datang ketika kondisinya sudah berat. Tanpa penanganan tepat, uveitis bisa memicu katarak, glaukoma, hingga kebutaan permanen,” jelas Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, Sub Spesialis Ocular Infection and Immunology JEC.

Uveitis: Penyebab dan Gejala

Uveitis dapat menyerang semua usia, terutama kelompok produktif (20–60 tahun), dan menyumbang 25% kasus kebutaan di negara berkembang. Di Indonesia, pemicunya banyak berasal dari infeksi sistemik seperti tuberkulosis dan toksoplasma, serta penyakit autoimun.

Jenis uveitis meliputi:

Anterior: peradangan di depan uvea.
Intermediate: peradangan di bagian tengah.
Posterior: peradangan di belakang.
Panuvetis: peradangan menyeluruh.

Gejala umum antara lain: mata merah, nyeri, penglihatan kabur, floaters (bintik melayang), serta pandangan sensitif terhadap cahaya. Gejala ini sering disangka infeksi mata ringan, sehingga banyak penderita abai.

“Gejala uveitis bisa memburuk cepat. Karena itu diagnosis akurat dan koordinasi medis lintas bidang sangat penting,” tambah Dr. Eka.

Penanganan Uveitis

Tata laksana uveitis dimulai dengan pemeriksaan menyeluruh menggunakan slit-lamp, pencitraan, dan tes darah. Terapi disesuaikan dengan penyebab, di antaranya; tetes mata kortikosteroid untuk meredakan peradangan, obat pelebar pupil (cycloplegics) untuk mengurangi nyeri, kortikosteroid oral/suntik untuk kasus berat, imunosupresan bagi penderita autoimun, antibiotik, antivirus, atau antijamur jika dipicu infeksi.


Gangguan Retina di Dunia dan Indonesia

Menurut WHO, 196 juta orang di dunia mengalami degenerasi makula, dan 146 juta menderita retinopati diabetik. Di Indonesia, prevalensi retinopati diabetik mencapai 43,1%.

“Sebagai pusat rujukan retina nasional, JEC Retina Center menghadirkan penanganan retina komprehensif, didukung teknologi canggih seperti OCT, fundus imaging, USG mata, hingga laboratorium lengkap,” terang Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng.

Ajak Masyarakat Deteksi Dini

Dalam semangat World Retina Day, JEC menyerukan pentingnya deteksi dini.

“Langkah preventif kecil seperti pemeriksaan rutin mata bisa menyelamatkan penglihatan. Semakin cepat tertangani, semakin besar peluang mata terselamatkan,” tegas Dr. Referano.