
JAKARTA - Rencana pengunduran diri Rahayu Saraswati dari DPR RI dinilai tidak bisa diputuskan secara tergesa-gesa. Pimpinan partai politik diminta arif dan bijak dalam menyikapinya.
Penggerak Mata Project Indonesia (MPI) Muh Aqil Al-Waris menegaskan, keputusan partai harus mempertimbangkan rekam jejak dan kontribusi Rahayu selama di parlemen.
Menurutnya, aspek tersebut jauh lebih penting ketimbang hanya menerima pengunduran diri secara formal.
“Pimpinan parpol semestinya menimbang secara utuh. Bukan hanya soal pernyataan mundur, tapi juga kinerja, integritas, dan peran strategis Rahayu di DPR,” kata Aqil dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (14/9/2025).
Aqil menilai, selama ini Rahayu menunjukkan kiprah nyata di Senayan. Salah satunya menjadi Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang (Jarnas) yang konsisten memperjuangkan isu kemanusiaan.
Lebih jauh, Aqil menilai pengunduran diri Rahayu dipicu kesalahpahaman publik atas potongan video yang tersebar.
“Itu lebih tepat dilihat sebagai persoalan etika, bukan pelanggaran serius yang mencederai integritas DPR,” tandasnya.
Dengan pertimbangan itu, Ia menekankan penolakan pengunduran diri menjadi langkah proporsional.
“Selain meredam polemik, keputusan itu juga akan menunjukkan komitmen partai menghadirkan kader yang berintegritas dan dipercaya masyarakat,” pungkas Aqil.
Sebagai Informasi, Mata Project Indonesia (MPI) adalah gerakan yang diinisiasi anak muda pada tahun 2023. Gerakan ini berfokus pada isu-isu kemasyarakatan dengan semangat gotong royong, serta mengusung tagline "Melihat Lebih Dekat, Membangun Lebih Dalam."