Hentikan Intoleransi, Mari Bersama Majukan Bangsa Dalam Perbedaan

AKM • Saturday, 6 Sep 2025 - 04:18 WIB
Mantan Anggota DPR  Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M. (Istimewa)

Jakarta - Mantan Anggota DPR  Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M. menyatakan Indonesia lahir dari perbedaan. Para pendiri bangsa menyadari sejak awal bahwa tanpa kebhinekaan, republik ini takkan pernah berdiri. Soekarno, Hatta, Jenderal Sudirman, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, BJ Habibie, hingga Gus Dur memberi teladan bagaimana merangkul ragam suku, agama, dan budaya.

“ Tegas berkomitmen bahwa perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan fondasi persatuan kitta,” ujarnya kepada Media, Jakarta, Sabtu (6/9).

Didi mengutip pernyataan  Jenderal Sudirman yang menyatakan bahwa

“Perjuangan kita bukan hanya untuk satu golongan, tapi untuk seluruh bangsa Indonesia.” 

Menurut Didi, mantan anggota Parlemen 3 Periode ini, pernyataan Jenderal Sudirman menunjukan bagaimana ia memandang keberagaman sebagai kekuatan bersama dalam mempertahankan kemerdekaan & keutuhan NKRI. 

“Namun kini setelah 80 tahun Indonesia merdeka, realitas yang kita hadapi justru mencemaskan. Dalam dua tahun terakhir, peristiwa intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama meningkat signifikan,” cemas Didi.

Didi mencontohkan, dari pembubaran kegiatan ibadah, perundungan di sekolah, hingga penolakan pembangunan rumah ibadah, semua menunjukkan betapa rapuhnya toleransi Indonesia. 

“Setiap insiden adalah tamparan, bahwa cita-cita para pendiri bangsa semakin menjauh jika dibiarkan,” sebutnya.

Didi menjelaskan  dunia telah memberi contoh. Kanada, misalnya, berhasil menjadikan pluralisme sebagai kekuatan. Dengan kebijakan multikulturalisme yang konsisten, perbedaan justru menguatkan kohesi sosial dan meningkatkan daya saing bangsa. 

“Begitu pula Afrika Selatan pasca-Apartheid: rekonsiliasi yang menekankan kesetaraan mampu memulihkan luka sejarah dan menumbuhkan optimisme baru,” sebut didi yang juga praktisi hukum.

Didi menegaskan, yang kita butuhkan adalah kesadaran bersama: bahwa menghargai perbedaan adalah syarat mutlak kemajuan bangsa. Intoleransi hanya akan melemahkan, sedangkan pluralisme pasti memperkuat.

“Mari hentikan intoleransi, sekecil apa pun bentuknya. Mari kita jadikan ruang ibadah sebagai tempat yang aman, sekolah sebagai ruang belajar yang inklusif, dan masyarakat sebagai rumah bersama. Persatuan sejati lahir ketika kita merayakan perbedaan, bukan menakutinya,” pintanya.

Didi menyebutkan Indonesia harus berani membuat keneragaman sebagai kekuatan untuk melangkah maju menjadi bangsa yang besar.

“Saat kita berani menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, Indonesia tidak hanya bertahan—tetapi akan melangkah maju sebagai bangsa besar yang diperhitungkan dunia,” tandasnya