Wamen LH Bongkar Strategi RI Jual Karbon ke Dunia, Begini Skemanya

FAZ • Wednesday, 27 Aug 2025 - 17:51 WIB

JAKARTA – Pemerintah Indonesia akan mengangkat potensi perdagangan karbon sebagai salah satu agenda utama dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil, pada November 2025 mendatang.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono mengatakan, beberapa negara telah menyatakan minat untuk membeli karbon dari Indonesia.

“Kita juga akan fokus dengan penjualan, karena ada sesi khusus untuk seller meet buyers, di mana mungkin kita akan menjelaskan dan mendorong agar adanya penjualan karbon di situ,” ujar Diaz usai rapat persiapan delegasi RI di Jakarta Pusat, Rabu (27/8/2025).

Menurut Diaz, Indonesia akan memaparkan potensi besar perdagangan karbon, baik dari sektor berbasis alam seperti kehutanan dan kelautan, maupun dari sektor energi.

Sejumlah negara, lanjut dia, sudah menunjukkan ketertarikan. Salah satunya Norwegia yang menyatakan siap membeli hingga 12 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e).

Namun, skema kerja sama yang ditawarkan Norwegia bukan berupa pembelian langsung, melainkan melalui investasi pada proyek energi terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“Norwegia itu nanti bersedia untuk mensubsidi proyek solar panel yang secara ekonomi belum layak, agar proyek tersebut bisa berjalan,” kata Diaz.

Selain Norwegia, Korea Selatan juga berminat pada kredit karbon dari sektor kelapa sawit, terutama pengolahan limbah cair pabrik atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Sementara itu, Jepang menunjukkan ketertarikan pada perdagangan Renewable Energy Certificates (RECs).

“Dengan Korea, kita sudah punya MoU yang akan berakhir pada 2026. Nanti akan dilihat bentuk konversinya seperti apa,” jelasnya.

Untuk memperkuat posisi di pasar internasional, Indonesia tengah menyiapkan perjanjian Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan lembaga standar karbon global Verra. Sebelumnya, Indonesia juga telah menjalin kesepakatan dengan Gold Standard.

“Langkah ini penting untuk memperkuat kredibilitas sekaligus memperbesar peluang perdagangan karbon Indonesia di pasar international,” pungkas Diaz.