Semarang – Perkumpulan Underwriter Jiwa Indonesia (PERUJI) menggelar Indonesia Underwriting Summit (IUS) 2025 di Hotel Padma, Semarang, 13–14 Agustus 2025. Mengusung tema “Digital Power, Customer First”, forum ini menegaskan komitmen PERUJI dalam mendorong transformasi underwriting dan klaim melalui inovasi digital serta pendekatan berorientasi nasabah.
Ketua PERUJI, dr. Dessy Kusumayati, menyebut summit ini sebagai momentum memperkuat profesi underwriter di era digital. “Dengan teknologi seperti AI dan machine learning, kita bisa meningkatkan ketepatan seleksi risiko, deteksi kecurangan klaim, dan menghadirkan pengalaman nasabah yang lebih baik,” ujarnya.
Acara dihadiri lebih dari 200 peserta, termasuk pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Persatuan Aktuaris Indonesia, hingga Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia. Diskusi membahas isu strategis, mulai dari pemanfaatan AI di asuransi kesehatan, tantangan pricing, pengelolaan biaya rumah sakit, hingga regulasi terbaru.
Deputi Komisioner OJK, Iwan Pasila, menegaskan pentingnya kecukupan premi, cadangan, dan pengelolaan transaksi dalam menjaga stabilitas industri. OJK juga tengah mengembangkan database polis untuk memperkuat pengawasan kewajiban asuransi.
Sementara itu, riset Mercer Marsh Benefits memprediksi inflasi medis Indonesia 2025 mencapai 19%, tertinggi kedua di Asia Pasifik. Kondisi ini diperkirakan mendorong kenaikan premi asuransi kesehatan, sehingga kolaborasi digital dan customer-centricity dinilai makin penting.
Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon, menyambut baik IUS 2025. Menurutnya, underwriter berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan kualitas industri asuransi jiwa. “Digitalisasi dan customer-centricity akan membuat layanan asuransi semakin mudah, cepat, dan transparan,” ujarnya.
PERUJI optimistis IUS 2025 dapat menjadi wadah kolaborasi lintas profesi untuk memperkuat industri asuransi Indonesia.