Demo Warga Pati, Pejabat Diingatkan Hati-Hati Buat Kebijakan

AKM • Thursday, 14 Aug 2025 - 11:04 WIB
Aksi ratusan ribu massa menuntut Bupati Pati mundur, Rabu, 13/08/2025

Jakarta - Aksi ratusan ribu massa menuntut Bupati Pati mundur, Rabu, 13/08/2025, harus menjadi perhatian para kepala daerah untuk berhati-hati membuat kebijakan yang sensitif. 

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS  Mulyanto menilai kasus ini adalah pelajaran penting bagi pejabat publik dan Pemerintah secara umum dalam pengelolaan kebijakan publik yang tidak boleh semena-mena.

“Alih-alih menghasilkan kebijakan yang unggul, aturan publik yang dibuat Bupati Pati mencerminkan kebijakan yang gagal (policy failure),” ujar Mulyanto kepada Media, Jakarta, Kamis (14/8).

Anggota DPR RI periode 2019-2024 ini mengatakan semestinya dalam sistem demokrasi yang kita anut sekarang ini, sebelum kebijakan publik diambil, dilakukan musyawarah publik yang luas, untuk menjaring partisipasi masyarakat, agar kebijakan yang akan diambil, mendapat dukungan dan legitimasi sosial yang luas.

Kebijakan publik yang gagal dan menuai penolakan publik biasanya dibuat tanpa proses konsultasi dan partisipasi publik yang memadai. Apalagi bila proses pembentukan kebijakan publik tersebut terkesan tertutup dan elitis, tidak melibatkan  masyarakat, tokoh agama, dan DPRD.

"Belum lagi kalau kebijakan publik yang diambil terkesan hanya menguntungkan segelintir orang, baik secara ekonomi maupun pencitraan politik (legacy). Kebijakan untuk menaikkan PBB-P2 secara drastis hingga 250%, tanpa analisis dampak sosial dan kemampuan ekonomi rakyat secara mendalam terkesan menjadi kebijakan yang “memeras” masyarakat," jelas Mulyanto. 

Menurut Mulyanto, rakyat kecil merasa menjadi target kenaikan pajak, karena relatif sulit menolak secara politik, sementara kelompok berpengaruh atau pemilik modal besar dapat melakukan lobi politik.

“Di tengah kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja, kebijakan seperti itu tentu akan menambah beban hidup masyaraka," lanjut Mulyanto.

Ia memperkirakan kalau situasi ini yang terjadi, maka biaya pembangunan akan cenderung dipikul pihak yang secara politik kurang berpengaruh (masyarakat kecil).  

"Ini tentu tidak demokratis," tegas Mulyanto.